Memaparkan catatan dengan label Tasauf. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Tasauf. Papar semua catatan

Jumaat, 19 Mac 2010

BAHAYA SOMBONG DAN RIYA' - Peringatan Ulama' dulu dan Sekarang

Salah satu sifat yang harus dihindari oleh semua manusia adalah sifat sombong. Karena hanya Allah swt saja yang berhak dan pantas untuk memiliki dan menyandangnya. Semua makhluq termasuk manusia yang merupakan ciptaan Allah tidak berhak memakainya. Karena Allah swt sangat tidak menyukai orang-orang yang berlaku sombong. Oleh karena karena sifat sombong inilah yang menyebabkan iblis melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Dan akibat pembangkangan inilah yang menyebakan ia di keluarkan dari syurga. Padahal sebelum itu ia termasuk makhluq Allah swt yang diizinkan berada di syurga-Nya. Dalam pergaulan kehidupan manusia sehari-hari, banyak orang yang tidak menyukai seseorang yang mempunyai sifat sombong


Sifat sombong boleh melemahkan posisi seseorang dalam menghadapi tantangan, atau cabaran baik yang muncul karena sebab kelebihan ilmu, pandangan, atau informasi. Ini sering mengakibatkan dirinya mudah mengambil kesimpulan, keputusan, atau bahkan menghukum keadaan. Jelas cara ini sangat merbahaya. Karena dengan cara seperti itu seseorang akan terjebak dalam pandangan yang melampau terhadap dirinya dan sebaliknya memandang rendah terhadap orang lain atau keadaan yang dihadapinya. Ini pernah menjadi catatan pahit kaum muslimin di masa lalu, sebagaimana Allah sebut dalam ayat-Nya:


“Sungguh Allah telah menolong kamu di banyak tempat dan pada hari (perang) Hunain, saat jumlah kalian yang banyak membuat kamu bangga tapi ternyata tidak berguna sama sekali bagi kamu (jumlah tersebut), dan bumi kamu rasakan menjadi sempit padahal ia luas, kemudian kamu berpaling dengan membelakang. Kemudian Allah menurunkan ketenteraman-Nya atas rasul-Nya dan atas orang-orang beriman dan menurunkan bala tentera yang kamu tidak dapat melihatnya, dan menyiksa orang-orang kafir. Dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.” (At-Taubah 25-26)


Sifat sombong juga boleh terjadi dalam bentuk mengangkat atau menonjolkan diri sendiri melebihi kapasiti sebenarnya. Merasa diri paling berjasa dan berperanan dalam meraih keberhasilan adalah bentuk lain dari kesombongan. Padahal keberhasilan dan kemenangan pastilah diraih melalui usaha bersama dan kerjasama dari semuanya. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kemenangan yang dicapai dengan sendirian. Kemenangan Islam adalah kemenangan kolektif dan dihasilkan dari ‘amal jama’i yang segala keputusannya lahir dari musyawarah (syura).


Disamping sifat sombong, ada lagi salah satu sifat yang perlu selalu diwaspadai dalam bermuamalah. Sifat yang dimaksud adalah sifat Riya. Sifat Riya juga menempati posisi penting dalam faktor-faktor penyebab kegagalan dalam sebuah amaliyah dan dalam perjuangan da’wah Islam.. Sebelum riya itu berdampak buruk dalam interkasi sesama manusia, ia terlebih dahulu merupakan penyakit yang dimurka Allah swt. Rasulullah saw menjelaskan bahawa alih-alih mendapatkan pahala, orang yang beramal dengan riya lebih layak menjadi penghuni neraka. Kerena memang orang yang riya bukan mencari redha Allah dengan amalnya. Atau mencari redha Allah sambil mencari pujian manusia. Dan Allah tidak suka cara seperti itu. Lalu, bagaimana akan mendapatkan pertolongan Allah swt. jika dalam beramal yang diinginkan adalah keredhaan manusia?


Sifat Sombong dan riya ini merupakan induk dari akhlak buruk yang akan memunculkan perilaku buruk lainnya. Kerana itu dapat difahami jika larangan sombong dan riya kemudian diikuti dengan larangan menghalang orang lain dari jalan Allah. Apa maksudnya? Maksudnya bukan dakwah dan perjuangannya yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, Tetapi adanya sifat-sifat dan akhlak buruk yang kadang menyertai dakwah dan perjuangan itu. Akhlak buruk boleh menyebabkan orang lari dari dakwah dan bahkan dari Islam itu sendiri. Dan jika ada orang yang lari dari Islam gara-gara kita yang berakhlak buruk, maka kita dianggap telah menghalang orang lain dari jalan Allah. Maka, sifat-sifat buruk ini perlu dibersihkan dari diri kita.

Selasa, 16 Mac 2010

Menjawab Fitnah terhadap Ahlul Bait dan Ulama'

Bab 43 (Kitab Riyadus Sholihin)
Memuliakan Ahli Baitnya Rasulullah s.a.w. Dan Menerangkan
Keutamaan Mereka


Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menghendaki akan menghilangkan kotoran daripadamu semua, hai ahlul bait - yakni keluarga Rasulullah - dan membersihkan engkau semua dengan sebersih-bersihnya." (al- Ahzab: 33)

Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan barangsiapa yang memuliakan tanda-tanda suci - agama Allah, maka sesungguhnya
yang sedemikian itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati." (al-Haj:32)

Keterangan:

Ahli bait Rasulullah s.a.w., yang di dalamnya termasuk pula zurriyah atau keturunannya dan yang dalam hukum Agama Islam sama sekali tidak boleh diberi sedekah dan merekapun haram pula menerimanya apabila diberi, di negeri kita pada umumnya diberi nama "Sayyid" bagi yang lelaki dan "Sayyidah" bagi yang wanita. Golongan sayyid atau sayyidah itu adalah dari keturunan Sayidina Hasan r.a. Adapun jika dari keturunan Sayidina Husain r.a., maka diberi nama "Syarif" bagi yang lelaki dan "Syarifah" bagi yang perempuan. Makna sebenarnya, sayyid adalah pemuka dari kata Saada Yasuudu, artinya mengepalai atau mengetuai, sedang Syarif artinya adalah orang yang mulia dari kata Syarufe Yasyrufu, maknanya mulia.

Dalam Hadis yang tertera ini tercantum suatu anjuran kepada kita semua, agar kita memuliakan kepada golongan mereka, tetapi ini tidak bererti bahwa kita tidak perlu memuliakan kepada golongan selain mereka itu. Perihal penghormatan terhadap siapa pun juga manusianya, tetap wajib. Jadi dalam hal penghormatan sama sekali tidak ada diskriminasi atau perbedaan, baik mengenai caranya, menemui atau berhadapan dengannya dan lain-lain lagi. Jadi jikalau di antara golongan mereka ada yang meminta supaya dimuliakan lebih dari golongan selain mereka, maka hal itu tidak dapat dibenarkan, sebab manusia yang termulia di sisi Allah hanyalah yang terlebih ketaqwaannya kepada Allah Ta'ala itu belaka.

Sebagian golongan ada yang menggunakan ayat di bawah ini sebagai nash atau dalil bahawa Nabi Muhammad s.a.w. menyuruh ummatnya agar keturunan beliau s.a.w. lebih dimuliakan, lebih dihormati dan dialu-alukan daripada golongan lainnya. Ayat yang digunakan pedoman itu ialah yang berbunyi:

"Katakanlah - wahai Muhammad! Untuk ajakan itu, aku tidak meminta upah atau bayaran
kepadamu semua, melainkan kekasih sayangan terhadap keluarga". (asy-Syura:23)

Oleh sementara golongan, keluarga yang wajib dikasih-sayangi ialah keluarga Rasulullah s.a.w., dengan makna bahwa mereka yang diberi nama Sayyid, Sayyidah, Syarif atau Syarifah itu wajib lebih dimuliakan dan dihormati melebihi yang lain. Jadi makna Alqurbaa dikhususkan kepada keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husain radhiallahu 'anhuma yang keduanya itu putera Sayidina Ali r.a. dan isterinya bernama Sayidatina Fathima radhiallahu 'anha yakni puteri Rasulullah s.a.w. Tetapi beberapa ahli tafsir
menjelaskan bahawa makna dari lafaz Alqurbaa itu bukan dikhususkan untuk golongan keturunan Sayidina Hasan serta Sayidina Husain r.a. itu saja. Baiklah kita meneliti sejenak
apa yang dijelaskan dalam Ash-Shawi, sebuah hasyiyah dari Tafsir Jalalain dan hasyiyah atau
kupasan tersebut ditulis oleh Imam Ahmad ash-Shawi al-Maliki. Di antara kupasannya
mengenai lafaz Alqurbaa beliau berkata:

"Para ahli tafsir sama berselisih pendapat dalam memberikan makna ayat ini," yang
dimaksudkan ialah "kasih-sayang pada keluarga, sehingga jumlah pendapat itu menjadi tiga
macam. Selanjutnya secara ringkasnya beliau menyatakan:
(a) Kekeluargaan.
(b) Kerabat atau rasa kefamilian antara seluruh kaum muslimin.
(c) Mentaqarrubkan atau mendekatkan diri kepada Allah dengan
melaksanakan amal perbuatan yang baik dan diridhai olehNya.

Jadi kalau yang digunakan menurut bagian (a) yakni yang pertama, maka benarlah
bahawa zurriyah Nabi s.a.w. itulah yang dimaksudkan, sebagaimana juga tertera dalam
Hadis di bawah ini, yaitu no. 345.

Namun demikian, kalau ada yang mengatakan bahawa golongan mereka itu adalah
manusia suci dari dosa, ataupun sudah pasti masuk syurga, atau pada akhir hayatnya pasti
memperoleh husnul khatimah atau lain-lain yang bukan-bukan, maka sama sekali tidak
dapat diterima, sebab, memang tidak ada keterangan dalam al-Quran atau Hadis yang
terjamin kebenarannya, sebab suci atau terjaga dari dosa (ma'shum minadz-dzunub)
hanyalah para Nabi 'alaihimush shalatu wassalam, sedangkan masuk syurga ataupun
memperoleh husnul khatimah adalah semata-mata di dalam ketentuan Allah Subhanahu wa
Ta'ala.


345. Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain binSabrah dan
Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di
dekatnya, lalu Hushain berkata padanya: "Hai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan
yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah s.a.w., mendengarkan
Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh-sungguh
engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita
apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah s.a.w. Zaid lalu berkata: "Hai anak
saudaraku, demi Allah,sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampi rtiba, juga
saya sudah lupa akan sebagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah s.a.w. Maka
dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang
tidak saya beritahukan, hendaklah engkau semua jangan memaksa-maksakan padaku untuk
saya terangkan." Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah s.a.w. pernah berdiri berkhutbah di
suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau s.a.w.
lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan,
kemudian bersabda:

"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang
manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku - yakni malaikatul-maut,
kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya - yakni diwafatkan. Saya meninggalkan
untukmu semua dua benda berat - agung - yaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada
petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah - dengan berpedoman kepada Kitabullah
itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh
serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.

Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan
kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi
saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan
ahli baitku." Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah
isteri-isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya
Rasulullah s.a.w. ialah Ahli keluarga keturunan - Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas."
Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima
sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Ingatlah dan sesungguhnya saya meninggalkan kepadamu semua dua benda berat agung,
pertama ialah Kitabullah. Itu adalah tali agama Allah. Barangsiapa yang mengikutinya ia dapat memperoleh petunjuk, sedang barangsiapa yang meninggalkan -mengabaikan - padanya, ia akan berada dalam kesesatan."

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dalam sebuah
Hadis mauquf 'aiaih, bahawasanya dia berkata: "Intailah Muhammad s.a.w. dalam ahli baitnya." (Riwayat Bukhari)

Maknanya Urqubuhu ialah jagalah dan hormati serta memuliakanlah ia, dengan menghormati serta memuliakan ahli baitnya Rasulullah s.a.w. itu.


Bab 44

Memuliakan Alim Ulama, Orang-orang Tua, Ahli Keutamaan Dan Mendahulukan Mereka Atas Lain-lainnya, Meninggikan Kedudukan Mereka Serta Menampakkan Martabat Mereka


Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah - hai Muhammad, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang
yang tidak mengetahui. Hanyasanya yang mengingat ialah orang-orang yang menggunakan
fikirannya." (az-Zumar: 9)

347. Dari Abu Mas'ud yaitu'Uqbah bin 'Amr al-Badri al-Anshari r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Yang berhak menjadi imamnya sesuatu kaum - waktu shalat ialah yang terbaik
bacaannya terhadap kitabullah - al-Quran. Jikalau semua jamaah di situ sama baiknya dalam
membaca kitabullah, maka yang terpandai dalam as-Sunnah - Hadis. Jikalau semua sama
pandainya dalam as-Sunnah,maka yang terdahulu hijrahnya.Jikalau dalam hijrahnya sama
dahulunya, maka yang tertua usianya.Janganlah seseorang itu menjadi imamnya seseorang yang lain dalam daerahkekuasaan orang lain itu dan jangan pula seseorang itu duduk dalam rumah orang lain itu diatas bantainya- orang lain tadi, kecuali dengan izinnya - yang memiliki." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan oleh Imam Muslim: "Maka yang terdahulu masuknya
Islam" sebagai ganti "yang tertua usianya."

Dalam riwayat lain lagi disebutkan:
"Yang berhak menjadi imamnya sesuatu kaum - waktu shalat ialah yang terbaik
bacaannya terhadap kitabullah - al-Quran, dan orang yang terdahulu pandai membacanya.
Jikalau dalam pembacaan itu sama - dahulu dan pandainya, maka hendaklah yang menjadi
imam itu seorang yang terdahulu hijrahnya. Jikalau dalam hijrahnya sama dahulunya, maka
hendaknya menjadi imam seorang yang tertua usianya."

Yang dimaksudkan bisulthanihi yaitu tempat kekuasaannya atau tempat yang ditentukan untuknya. Takrimatihi dengan fathahnya ta' dan kasrahnya ra' ialah sesuatu yang dikhususkan untuk diri sendiri, baik berupa bantal, hamparan, kasur ataupun lain-lainnya.

348. Dari Abu Mas'ud r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. mengusap bahu-bahu kita
dalam shalat dan bersabda:

"Ratakanlah - saf-saf dalam shalat - dan jangan bersilih-silih lebih maju atau lebih ke
belakang, sebab jikalau tidak rata, maka hatimu semua pun menjadi berselisih. Hendaklah
menyampingi saya - dalam shalat itu - orang-orang yang sudah baligh dan orang-orang yang
berakal di antara engkau semua. Kemudian di sebelahnya lagi ialah orang-orang yang
bertaraf di bawah mereka ini lalu orang yang bertaraf di bawah mereka ini pula."
(Riwayat Muslim)

Sabda beliau s.a.w.: Liyalini diucapkan dengan takhfifnya nun -tidak disyaddahkanserta
tidak menggunakan ya'sebelum nun ini, tetapi ada yang meriwayatkan dengan syaddahnya nun dan ada ya' sesudah nun itu - lalu dibaca liyalianni -. Annuha yakni akal.
Ululahlami ialah orang-orang yang sudah baligh, ada pula yang mengertikan: ahli hilm -
kesabaran - dan fadhal - keutamaan.

349. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hendaklah menyampingi saya - dalam shalat - itu orang-orang yang sudah baligh
dan berakal, kemudian orang-orang yang bertaraf di bawah itu." Ini disabdakannya sampai
tiga kali. Beliau s.a.w. lalu melanjutkan: "Jauhilah olehmu semua akan berkeras-keras suara
seperti pasar. (Riwayat Muslim)

350. Dari Abu Yahya, ada yang mengatakan, namanya: Abu Muhammad, iaitu Sahal
bin Abu Hatsmah - dengan fathahnya ha' muhmalah dan sukunnya tsa' mutsallatsah - al-
Anshari r.a., katanya: "Abdullah bin Sahal dan Muhayyishah bin Mas'ud berangkat ke
Khaibar dan pada saat itu antara penduduk Khaibar - dengan Nabi s.a.w. - ada persetujuan
perdamaian. Kemudian kedua orang itu berpisah.Setelah itu Muhayyishah mendatangi
tempat Abdullah bin Sahal, tetapi yang didatangi ini sudah dalam keadaan berlumuran
darah dan telah terbunuh. Muhayyishah lalu menanamnya, terus berangkat kembali ke
Madinah. Setelah itu Abdur Rahman bin Sahal, Muhayyishah dan Huwayyishah, yakni
putera-putera Mas'ud, berangkat ke tempat Nabi s.a.w., lalu Abdur Rahman mulai berbicara,
kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Yang tua saja yang berbicara, yang tua saja yang
berbicara," sebab Abdur Rahman adalah yang termuda antara orang-orang yang menghadap
itu. Abdur Rahman lalu berdiam diri dan kedua orang itulah yang berbicara. Sesudah itu
Nabi s.a.w. lalu bersabda: "Adakah engkau semua bersumpah dan dapat menghaki orang
yang membunuhnya itu?" Seterusnya Abu Yahya yang merawikan Hadis ini - menyebutkan
kelengkapan Hadis di atas. (Muttafaq 'alaih)

351. Dari Jabir r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. mengumpulkan antara dua orang lelaki
dari golongan orang-orang yang terbunuh dalam peperangan Badar - yakni dikumpulkan
dalam sebuah kubur, kemudian beliau bertanya - kepada sahabat-sahabatnya: "Manakah di
antara kedua orang ini yang lebih banyak hafalnya pada al Quran?" Ketika beliau s.a.w.
diberi isyarat antara salah satunya, maka yang dikatakan lebih banyak hafalannya al-Quran
itulah yang lebih didahulukan untuk dimasukkan dalam liang lahad." (Riwayat Bukhari)

352. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Saya pernah melihat diri saya sendiri dalam impian di waktu saya sedang bersugi
dengan menggunakan sebatang kayu siwak. Kemudian datanglah padaku dua orang lelaki,
yang satu lebih tua daripada yang lainnya. Lalu siwak itu hendak saya berikan kepada orang
yang lebih muda, tiba-tiba ada seorang yang berkata padaku: "Berikanlah kepada yang tua."
Oleh sebab itu, maka saya berikanlah kepada yang tertua di antara kedua orang tadi."
Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai musnad dan oleh Imam Bukhari sebagai
ta'liq.

353. Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setengah daripada cara
mengagungkan Allah Ta'ala ialah dengan jalan memuliakan orang Islam yang sudah beruban
serta orang yang hafal al-Quran yang tidak melampaui batas ketentuan -dalam membacanya
- dan tidak pula meninggalkan membacanya. Demikian pula memuliakan seorang sultan -
penguasa pemerintahan yang adil."
Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

354. Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari neneknya r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Tidak termasuk golongan kita - ummat Islam - orang yang tidak belas kasihan kepada
golongan kecil di antara kita - baik usia atau kedudukannya - serta tidak termasuk golongan
kita pula orang yang tidak mengerti kemuliaan yang tua di antara kita."
Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi. Imam
Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih. Dalam riwayat Abu Dawud
disebutkan: "hak orang yang tua dari kita."

355. Dari Maimun bin Abu Syabib bahawasanya Aisyah radhiallahu 'anha dilalui oleh
seorang peminta-minta lalu olehnya diberi sepotong roti, juga dilalui oleh seorang lelaki yang
mengenakan pakaian baik serta berkeadaan baik, lalu orang itu didudukkan kemudian ia
makan. Kepada Aisyah ditanyakan, mengapa berbuat demikian - yakni tidak dipersamakan
cara memberinya. Lalu ia berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Letakkanlah masing-masing
manusia itu di tempatnya sendiri-sendiri." Diriwayatkan oleh Abu Dawud, tetapi kata Imam
Abu Dawud: "Maimun itu tidak pernah menemui Aisyah."
Hadis ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam permulaan kitab shahihnya sebagai
ta'liq, lalu katanya: "Dan disebutkan dari Aisyah, katanya: "Rasulullah s.a.w. memerintahkan
kepada kita supaya kita menempatkan para manusia itu di tempatnya sendiri-sendiri - yakni
yang sesuai dengan kedudukannya."

Imam Hakim Abu Abdillah menyebutkan ini dalam kitabnya Ma'rifatu 'ulumil Hadis
dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih.

356. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: 'Uyainah bin Hishn datang - di
Madinah - lalu bertemu di rumah anak saudaranya-sepupunya - yaitu Hurbin Qais. Hur ini
adalah di antara golongan orang-orang yang dekat hubungannya dengan Umar r.a. dan
memang para ahli membaca al-Quran itu menjadi sahabat dalam majlisnya Umar dan yang
diajaknya bermusyawarat, baik pun mereka itu golongan orang-orang yang sudah tua
ataupun yang masih pemuda. 'Uyainah berkata kepada sepupunya: "Hai anak saudaraku, engkau ini mempunyai wajah - yakni dikenal amat baik - di sisi Amirul mu'minin ini - maksudnya Umar, maka dari itu mintakanlah izin untukku supaya aku dapat bertemu dengannya. Hur memintakan izin lalu Umar mengizinkannya. Setelah 'Uyainah masuk lalu ia berkata: "Ingat hai anaknya Alkhaththab, demi Allah, engkau ini tidak dapat memberikan banyak keenakan pada kita dan engkau tidak memerintah kepada kita dengan cara yang adil."
Umar r.a. marah padanya sehingga hampir saja bermaksud akan memberikan hukuman pada 'Uyainah itu. Tetapi Hur kemudian berkata pada Umar: "Hai Amirul mu'minin, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada Nabinya s.a.w. - yang ertinya: "Berilah pengampunan, perintahkan dengan kebajikan dan janganlah menghiraukan kepada orang-orang yang bodoh." (al-A'raf: 199) dan sesungguhnya orang ini - yakni 'Uyainah - adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh."

Demi Allah, maka Umar tidak suka melanggar ayat tersebut ketika dibacakan padanya
dan Umar adalah orang yang paling dapat menahan dirinya - yakni paling mentaati - kepada
isi kitabullah Ta'ala itu." (Riwayat Bukhari)

357. Dari Abu Said yaitu Samurah bin jundub r.a., katanya: "Niscayalah saya dahulu
itu sebagai seorang anak-anak di zaman Rasulullah s.a.w., maka saya menghafal - berbagai
ajaran - dari beliau. Juga beliau tidak pernah melarang saya berbicara, melainkan jikalau di
situ ada orang yang lebih tua usianya daripadaku sendiri." (Muttafaq 'alaih)

358. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah seseorang pemuda
itu memuliakan seseorang tua kerana usianya, melainkan Allah akan mengira-ngirakan
untuknya orang yang akan memuliakannya nanti, jikalau ia telah berusia tua -maksudnya
setelah tuanya pasti akan dimuliakan anak-anak yang lebih muda daripadanya."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa Hadis ini adalah Hadis
gharib

Rabu, 18 Mac 2009

Bimbingan Hidup Mukmin : Driver Of Wisdom


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an

“Maka Adakah orang Yang membangunkan Masjid Yang didirikannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan (untuk mencari) keredaan Allah itu lebih baik, ataukah orang Yang membangunkan Masjid Yang didirikannya di tepi jurang Yang (hampir) runtuh, lalu runtuhlah ia Dengan Yang membangunkannya ke Dalam api neraka? dan (ingatlah) Allah tidak akan memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang Yang zalim.”. (Taubah:109)


Analoginya adalah, bahawa jika seseorang membangun rumahnya pada tempat yang tidak kukuh tanpa fondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh. Jika seseorang membangun fondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan ditata dengan baik, ia akan mempunyai rumah yang kokoh. Segalanya memerlukan orang yang ahli.

Jika Saya tanya kepada saudara saya, “bolehkah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Ia akan menjawab, “Tidak, sebab saya bukan tukang kayu.”
Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena Anda ahlinya.
Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini fondasi, di sini simen dan seterusnya.

Jika kita memerlukan seorang ahli hanya untuk membangun rumah yang biasa, lalu bagaimana dengan hati kita? Bagaimana kita membuat suatu pendekatan kepada Tuhan tanpa dibimbing seorang ahli? Maka kita wajiblah mencari ahlinya.

kita tidak akan dapat makrifat Allah swt tanpa bantuan seorang pemandu, walaupun betapa bersungguhnya kita mencuba mengikuti jalan-Nya sendirian. Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian kerana kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa ia berada di jalur yang benar, boleh saja dia akan melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya. Dan dengan begitu seterusnya dia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan ia akan menjadi pemandu kita.
Untuk mekrifat kepadlah swt, kita tidak akan dapat menemukan jalan dalam mengharungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu kerana angin yang berasal dari keinginan ego dan hasrat ingin menonjolkan diri dapat merubah segalanya.

Ego memiliki keinginan. Tiupan angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan tersebut muncul, ia akan menutupi jalur yang benar sehingga kita akan tersesat. Kita akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkan perjalanan kita.

Itulah sebabnya kita memerlukan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengharungi gurun kehidupan tersebut. Ia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kita tidak dapat menemui pemandu berarti amatlah sukar kita menemukan petunjuk. Namun demikian, Allah swt Maha Penyayang, kerana kita berusaha untuk mencapai-Nya, kita akan menemukan-Nya di akhir hayat bahkan tanpa bantuan seorang pemandu, tetapi kita tidak dapat mencapai-Nya dengan cepat.

Sekarang kita telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang bererti, tetapi segalanya akan berubah setelah kita menemukan seorang pemandu dan seterusnya kita menerima panduan yang diberikannya, melewati kemahuan ego dan keinginan untuk menonjolkan diri, maka kita akan sampai di sisi Allah swt. Sebaliknya jika kita tidak menerimanya, maka ayat “dan (ingatlah) Allah tidak akan memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang Yang zalim.”. .

Ketika Rasulullah SAW diperintahkan untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah, beliau bersabda, “Aku memerlukan seorang pemandu.” Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal itu untuk mengajarkan kepada kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap memerlukan seorang pemandu, pemandu yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah.

Misalnya, kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang yang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita.

Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu?

Nabi ‘Isa AS bersabda, “Salah satu di antara kalian akan menghianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya.

Rasulullah SAW pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa AS dan Rasulullah SAW) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya. Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka memerlukan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Mekah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka akan sampai di Madinah dengan aman.

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk mengharungi gurun pasir, bagaimana pula dengan kehidupan Ruhaniah kita? Ini pasti akan lebih sulit. Maka jelas kita memerlukan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah SAW mempunyai pemandu, iaitu malaikat Jibril AS yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu.

Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW dibimbing menuju Hadirat IAllah azawajalla. Jadi secara mudahnya beliau memerlukan seorang pemandu iaitu ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dan beliau juga memerlukan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan jalan menuju petunjuk. Tanpa panduannya kita akan berada dalam keraguan, apakah yang kita lakukan benar atau salah. kita tidak akan mengetahuinya. Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena ia adalah seorang yang ahli.

Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa Rasulullah SAW mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” ini kerana beliau menyerahkan dirinya kepada pemandunya karena keahlian pemandu itu tadi.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya. kita tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa ia adalah pemandu kita. Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, boleh saja dia membawa kita ke dalam samudra Syaitan. kita akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi. Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Hadirat-Nya. Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi QS adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal.

1) Ia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain.

2) Ia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha Tinggi.

3) Ia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Allah swt. Bagaimana mungkin ia akan mengambil pelajaran dari orang lain?

hal ini bererti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya.

Dia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah SWT. Dia mempunyai rasa hormat, dia juga mencintai sesamanya, tetapi dia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain. Dan karena ia telah kehilangan satu karakteristik itu.

Seorang wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati. Jika kita melihat salah satunya tidak ada, maka ia bukanlah seorang pemandu sejati. Ia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi QS yang boleh mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak boleh membukanya pintu makrifat Allah swt . Ianya memerlukan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika menemuinya, dia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya.

Dia terlalu banyak memikirkan kehebatan dirinya. Akhirnya ia menerimanya juga dan setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi ia harus melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya dia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus menunggu ujian selama 2 tahun.

Bila kita menemukan seorang pemandu dan hati kita merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan ego kita. Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?“ Kita tidak akan kehilangan apa pun. Bila kita menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah SWT untuk mengangkat kita.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting. Jika kita bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagi kalian.

Ada sebuah ungkapan di Turki, berupa pertanyaan kepada seorang yang bijak,

“Dari mana engkau belajar perilaku yang sempurna dalam masyarakat?”


jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku boleh memperbaiki diriku melalui kesalahan orang lain.”

Jika kita boleh menerima semua orang sebagai pemandu kita, maka bahkan orang yang jahat pun dapat memandu kita. Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kita akan berhenti daripada melakukannya.

Wa min Allah at tawfiq

Selasa, 10 Mac 2009

TASAUF: Gaya Hidup Islam


Dengki Penghancur Kebaikan

Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popular, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polulariti, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Hadits itu menegaskan kepada kita bahwa dengki itu merugikan. Yang dirugikan bukanlah orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Di antara makna memakan kebaikan, seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan menganghantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)

Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:

Pertama, mengalami kekalahan dalam perjuangan.
Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia akan terjebak dalam tindakan merosak nama baik, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merosak citra, kredibiliti, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibiliti pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirosak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirosak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

Kedua, meruntuhkan kredibiliti.
Ketika seseorang melepaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan kepada pihak lain, jangan berangan bahawa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realiti, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Maka, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan.. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.

Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya boleh menburuk-burukan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang di anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki boleh ditukar menjadi keburukan. Maka, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?

Ketiga, mencukur gundul agama.
Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (At-Tirmidzi)

Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Akan tetapi Islam yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan rahmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat kejayaan, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan kejayaan dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat kejayaan itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan ataupun gundul.

Keempat, menyerupai orang munafik.
Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)

Benarlah ungkapan seorang ulama salaf: “Al-hasuudu laa yasuud (pendengki tidak akan pernah berjaya).” (Kasyful-Khafa 1:430).

Kelima, tidak mampu memperbaiki diri sendiri.
Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah. Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah kebodohan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.

Keenam, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran.
Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)

Ketujuh, membebani diri sendiri.
Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kejayaan, mukanya akan menjadi bertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sempit. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)

Betapa sulitnya kita menghimpun kebaikan dan meraih kemenangan. Maka janganlah diperparah dan dipersulit dengan membiarkan dengki menguasai hati kita. Mari berlumba dalam kebaikan.

ALANGKAH JELEKNYA SEKIRANYA ORANG-ORANG AGAMA BERSIFAT DEMIKIAN. MAKA AKAN TIMBULLAH AFSADAH (KEROSAKAN) DI MUKA BUMI ALLAH INI.MUHASABAHLAH WAHAI SAHABATKU YANG MEMILIKI SIFAT TERSEBUT...

Allahu a’lam.

Isnin, 4 Ogos 2008

Tausiyah Daripada Ulama' ASWJ al-Asyariyah


Oleh al-Habeeb Munzir al-Musawwa

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
Limpahan puji kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maha Menguasai jiwa dan Maha Menguasai alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, alam yang dirasakan dan alam yang tidak dirasakan. Maha Menguasai seluruh apa yang ada di alam semesta sebelum kita tercipta, setelah kita ada dan setelah kita tiada. Dia Allah tetap Maha Tunggal dan Maha Abadi dan Maha Ada, menguasai seluruh kehidupan, Maha Melimpahkan Rahmat dan Pengampunan yang tiada henti-hentinya ditumpahkan pada hamba-hamba-Nya, Jalla wa alla.Maha Suci Allah Swt, yang barangsiapa mengingatnya maka terang benderanglah jiwanya dengan cahaya Allah, yang dengan itu ia akan terbimbing selalu kepada keluhuran, kepada kemuliaan, kepada kesucian dan tercabut dari segala sifat-sifat yang hina, sifat-sifat yang tidak baik akan tersingkir dengan terang-benderang cahaya keindahan Allah di dalam jiwanya.

Semakin ia terangi jiwanya dengan iman dan dengan istighfar dan dengan kerinduan dan cinta kepada Allah, semakin jauh perbuatan buruk dari hari-harinya, semakin jauh musibah darinya, semakin jauh kesulitan darinya.

Hadirin – hadirat Sang Pembawa Rahmatan Lil Alamin membawakan kepada kita semulia-mulia anugerah, seindah-indah derajat berupa kedudukan yang abadi, semulia-mulia tingkatan yaitu kedekatan kepada Yang Maha Mencipta alam semesta. Dan jabatan ini jabatan yang kekal dan abadi, inilah jabatan yang paling mulia dari semua jabatan sepanjang alam semesta dicipta, jabatan para muqorrobin, para shiddiqin dan semua orang-orang yang dekat kepada Allah, jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, jiwa yang terang-benderang dengan khusyu, jiwa yang merindukan Allah. Manusia hamba-hamba seperti inilah yang menjadi mercusuar dari rahmat illahi bagi alam sekitar.

Kalau bukan karena pria-pria mukminin dan wanita-wanita mukminat yang kalian tidak ketahui kemuliaan mereka di sisi Allah, seandainya mereka itu tiada, akan tumpah ruah musibah dan bala di atas permukaan bumi, keberadaan jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, keberadaan muslimin - muslimat pria dan wanita yang khusyu, yang menjaga turunnya bala dan musibah di permukaan bumi. Demikian indahnya Allah memperindah keadaan alam dengan keberadaan mereka, matahari tiada akan mampu menahan musibah, tidak pula bulan, tidak pula seluruh bintang di langit, tapi keberadaan ahlul khusyu menahan musibah bagi alam sekitar. Demikian cahaya-cahaya Rabbul Alamin yang berpijar di dalam jiwa mereka.

Para pewaris Sayyidina Muhammad, mereka yang mewarisi kemuliaan dari matahari keridhoan Allah, Nabiyyuna Muhammad Saw. Ada matahari dunia, ada matahari keridhoan Allah, semuanya ciptaan Allah, semuanya tidak tercipta sendiri, semuanya ada dengan kehendak illahi. Demikian Allah menerangi sanubari mereka dan menggiringnya kepada keluhuran dan dengan keberadaan merekalah Allah membimbing ribuan dan banyak jiwa untuk kembali kepada rahmatNya dan kepada taubat.

Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
sampailah kita kepada seruan tertinggi dari Rabbul Alamin lewat NabiNya Muhammad Saw hingga beliau bersabda “barangsiapa yang mempunyai tiga sifat mulia ini, maka ia akan merasakan lezatnya iman”, apa itu lezatnya iman? tenangnya jiwa dalam segala keadaan, tenangnya alam semesta dengan ketenangan-Nya, tenangnya saudara dan temannya dengan keberadaan-Nya. Siapa mereka? yang mempunyai salah satu dari tiga sifat ini. Jiwanya akan merasakan lezatnya kebersamaan dengan Allah, ketika ia merasakan satu kelezatan yang membuatnya terlupa dari segala kelezatan dan kenikmatan, satu kelezatan dan keindahan dan kemanisan yang melebihi seluruh apa yang ada dari kemanisan dan keindahan itu, membuatnya lupa dari segala-galanya. Apa itu? Halawatul iman (kemanisan iman), bagaimana cara mencapainya?

Ada 3 kelompok orang diantaranya adalah yang pertama ialah orang yang mencintai Allah dan Rasul melebihi daripada segala-galanya, cintanya Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada yang lain, orang yang seperti ini akan merasakan lezatnya iman, akan merasakan lezatnya dekat dengan Allah, akan merasakan betapa tiada berartinya seluruh warna seluruh bentuk dan sifatnya dibanding Yang Maha Agung Yang Maha Indah, Allah Swt yang tidak tercapai dengan penglihatan, tidak pula terjangkau dengan pendengaran, tidak pula tersentuh dengan sentuhan, jauh tanpa jarak dan dekat tanpa jarak, dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak yaitu Allah Swt.

Seindah-indah Dzat yang menciptakan seluruh keindahan dan memberikan butir-butir kelezatan di dalam jiwa hamba-hamba-Nya, yang mencintai Allah melebihi segala - galanya. Allah dan Rasul, tidak ada yang lain yang lebih mereka cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.

Sebenarnya kalau kita memahami dan mendalami rahasia kelembutan Allah, sudah pasti kita tidak akan mencintai sesuatu lebih dari Allah dan Rasul, karena Allah dan Rasul lah yang paling baik kepada kita melebihi semua yang baik kepada kita. Allah Swt sudah memberi kita segala - gala anugerah dan kita masih terus bersabar dan Dia Allah masih terus memberi, diatas itu masih tawarkan pengampunan atas dosa dan kesalahan. Inilah yang terbaik dari semua yang baik.

“Wahai hamba-hambaKu, kau itu berbuat dosa siang dan malam dan Aku menghapus dosa. Wahai hamba-hambaKu beristighfarlah mohon pengampunan padaKu, Kuampuni dosa-dosa kalian”. Lebih dari itu Allah bukan menjanjikan pengampunan saja bagi mereka yang telah bertaubat kepadaNya, tapi Allah mengatakan, “orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu setelah mereka bertaubat dari dosa-dosanya”, apa yang Allah berikan jika mereka mau bertaubat kepada Allah? Ini anugerah yang sangat luar biasa, jarang diketahui orang. Bukan dihapus dosanya, tapi dosanya dibalik menjadi pahala, kalau ia mempunyai 10 gunung dosa maka 10 gunung dosa itu dirubah oleh Allah menjadi 10 gunung pahala. Untuk siapa? Orang yang bertaubat kepada Allah, tidak cukup minta pengampunan saja tapi ia berjanji pada Allah untuk tidak ingin kembali melakukan dosa yang pernah ia perbuat. Orang yang seperti itu, Allah ganti semua tumpukkan dosanya menjadi tumpukkan pahala seakan-akan tumpukkan gunung bara api yang akan membakarnya diganti oleh Allah menjadi gunung-gunung emas yang akan menyertainya kelak.

Demikian Yang Maha Lembut dan Maha Baik kepada kita, berkata Allah “wahai hamba-hambaKu kalian semua ini tidak akan bisa membawa manfaat kepadaKu dan tidak akan pernah pula bisa membawa mudharat kepadaKu”. Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya mempunyai hati yang baik dan taqwa, tidak bertambah kerajaanKu sedikit pun. Wahai hamba-hambaKu, jika berkumpul kalian seluruh jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya berada di dalam hati yang jahat dan perbuatan yang buruk, tidak berkurang kerajaan-Ku sedikit pun.

Demikian MahaRaja alam semesta Allah Swt yang dengan itu Ia menawarkan pengampunanNya atas setiap kesalahan, ditawarkan pengampunan sebelum hambaNya meminta, sebelum hambaNya tahu bahwa dirinya mempunyai kesalahan dan butuh minta maaf, Dia sudah kenalkan maafNya sebelum kita minta maaf.

Dan Dia Allah Swt tidak cukup kita taat dan kita diberi apa-apa di dunia saja disiapkan pula kebahagiaan di yaumal qiyamah. Inilah Yang Maha Baik dan tidak akan pernah ada yang bisa memberi kita surga selain Allah. Dan Allah Swt menjadikan kebaikan pada diri makhluk-Nya satu sama lain, hewan punya kebaikan, ibunya hewan punya kebaikan pada anaknya, ayahnya hewan demikian pula manusia satu sama lain saling berkasih satu sama sama lain. Tapi Allah ciptakan yang paling baik dari semua makhluk-Nya adalah Sayyidina Muhammad Saw, karena tidak ada orang yang paling baik yang mau menolong pendosa di hari kiamat.

Semua orang baik undur diri dari dosa, mau jadi teman, mau jadi kawan, mau jadi saudara, mau kenal asal jangan bicara dosa di dunia. Kita bisa kenal dan dekat dengan orang yang banyak dosa tapi di akhirat setelah melihat kobaran api neraka. Jika turun hamba-hamba yang dimasukkan ke dalam api neraka itu terdengar jeritan dan lolongan mereka dan api itu bergemuruh. Disaat itu hadirin – hadirat semuanya mundur untuk kenal dengan pendosa, “kau kenal dengan temanmu ini?”, “tidak kenal”, “ini Ayahmu?”, “tidak tahu”, ini Ibumu?”, “tidak tahu”, selama ia pendosa kecuali Nabi kita Muhammad Saw berkata “engkau-engkau adalah orang dari umatku, engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku”. Demikian riwayat Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari, Rasul Saw mengenali seluruh umatnya dan berkata pada umatnya, “engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku Saw”. Maka memang yang pantas dicintai adalah Allah dan Rasul, maka Rasul Saw bersabda “orang yang mempunyai kecintaan, cintanya pada Allah dan Rasul lebih dari segala-galanya,kalau ia sudah memiliki ini, ia akan merasakan kelezatan iman”.

Yang kedua ia mencintai orang karena cintanya pada Allah, bukan karena hartanya, bukan karena syahwatnya, bukan karena keahliannya, bukan karena jabatannya, bukan karena tetangganya, tapi karena Allah. Berat sekali kalau kita fikir ini, cinta pada semua orang tidak ada tapi karena cintanya pada Allah baru bisa cinta pada semua orang. Kalau tidak ia tidak cinta, bagaimana ini penjelasannya? Penjelasannya adalah ketika orang yang ia cintai berbuat dosa, ia tidak senang dengan perbuatan itu, bukan dimusuhi tapi tidak senang dengan perbuatan itu.

Jika seseorang tidak cinta karena Allah, maka saudaranya atau temannya atau kekasihnya atau orang yang ia cintai berbuat dosa, ya biarkan saja. Kalau orang lain yang berbuat dosa, ia protes dan kalau orang yang ia cintai, biar..biar. Nah, hal seperti ini, ia mencintainya tidak karena Allah, kalau karena Allah, ia tidak suka. Aku ingin memperbaiki orang yang aku cintai, harus kuperbaiki semampuku supaya ia tidak bertentangan dengan Allah, karena aku memilih Allah dari dia. Sekuat apapun cintaku kepadanya, aku lebih memilih Allah daripada dia. Orang yang mempunyai sifat seperti ini, ia akan merasakan lezatnya iman, lezat dan asyiknya dalam berdzikir, bermunajat memanggil nama Allah Swt.

Yang ketiga ia tidak mau kembali kepada kesesatan sebagaimana ia sangat tidak mau masuk kedalam api neraka, jadi takutnya daripada kembali kepada kesesatan bagaikan takutnya ia masuk kedalam neraka. Beda punya perasaan takut ini, takut dihina ada batasnya, takut dipukul ada batasnya, takut dicurigai ada batasnya, takut disiksa ada batasnya tapi tidak sampai takutnya dari masuk kedalam api. Dari semua ketakutan dan kerisauannya, tentu yang paling besar adalah dimasukkan kedalam api karena sakit dan pedihnya.

Demikian besarnya ketakutan dan kerisauannya untuk kembali kepada kesesatan, ia tidak mau kembali kepada kesesatan dalam keadaan apapun sebagaimana ia tidak mau masuk kedalam api. Orang yang mempunyai sifat ini maka ia akan merasakan lezatnya iman. Kita sekarang merenung, bagaimana dengan diriku? Rasanya dari 3 sifat ini aku sangat jauh daripadanya. Hadirin – hadirat, ada beberapa hal yang sangat memudahkan kita untuk menyampaikan kita kepada lezatnya iman. Diantaranya adalah niat yang kuat untuk mendapatkan sifat itu, mau walau belum mampu. Niat yang kuat sudah mendapatkan satu pahalaNya, walaupun belum mampu kesana, niat yang kuat membuat ia sampai kepada pahalaNya, ia akan merasakan lezatnya iman dan manisnya iman.

Belum sampai bisa mencintai Allah dan Rasul melebihi segala-galanya, bisa mencintai manusia hanya karena Allah, bisa menghindari kesesatan lebih daripada takutnya masuk kedalam api, belum mampu tapi kuatnya niat, karena didalam riwayat Shahih Bukhari Rasul Saw bersabda, “barangsiapa yang berniat berbuat baik, Allah tuliskan satu pahalaNya, ia sudah melakukan satu pahala jika ia sudah memperbuatnya kalikan 10 kali hingga 700 kali lipat”. Keinginan besar untuk mencapai itu, walau ia belum mampu sudah memasukkannya dalam kelompok mereka, sudah lalu bagi mereka kelezatan iman. Hadirin – hadirat ini salah satunya.

Cara yang lainnya adalah mencintai orang-orang yang sudah sampai ke derajat itu, karena apa? Karena kecintaan itu dijanjikan oleh sang Nabi Saw “seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Makin besar cintanya kepada orang yang sudah mencapai derajat itu, maka makin ia akan rasakan lezatnya iman dari rahasia cintanya kepada orang itu, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Sebagaimana ucapan Abu Dzar Ra riwayat Shahih Bukhari, “ya Rasulullah, seseorang kelompok mencintai orang lainnya tapi tidak bisa menyusul dengan hebatnya ibadah mereka, tidak mampu seperti mereka, cuma cinta kepada mereka”, Rasul Saw menjawab,“seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”.

Alangkah indahnya hadirin – hadirat, masukki samudera kelezatan iman, masukki samudera asyiknya didalam kehidupan karena kenikmatan ini akan kita rasakan melebihi dari seluruh kenikmatan yang ada. Paling tidak kita kalau tidak bisa didawamkan sepanjang usia, Rabbiy beri kami kesempatan satu dua menit kami merasakan lezatnya iman. Dalam kehidupan kami ini paling tidak satu dua sujud kami merasakan, kami sangat dekat dengan kasih sayang dan kelembutanMu.

Demikian hadirin – hadirat indahnya doa dan munajat, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang yang mencintai Sayyidina Muhammad Saw. Manusia yang paling indah budi pekertinya, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul Saw selalu mencari cara yang paling indah dalam bermuammalah. Ketika bertamu kepada beliau Saw beberapa orang yahudi, yahudi datang kepada Rasul, kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah “Assamu’alaikum”, kecelakaan untukmu wahai Muhammad. Beda Assalam dengan Assam, kalau tidak pakai (lam), Assam itu artinya kehinaan dan kecelakaan. Orang-orang yahudi bertamu kepada Rasul Saw, kalimatnya bukan Assalamu’alaikum tapi Assamu’alaik, kecelakaan dan kehinaan semoga terlimpah untukmu hai Muhammad.

Rasul menjawab “Wa’alaikum”, Sayyidatina Aisyah Ra, istri Rasul Saw, Ummul Mukminin mendengar dari belakang, ini orang mendoakan kehinaan dan kecelakaan bagi Nabi, tamu datang, bukan Rasul yang datang tapi datang pada Rasul dengan ucapan seperti itu, dijawab oleh Sayyidatuna Aisyah Ra “Assamu’alaikum wa’alaikumul laknat”, kehinaan dan kecelakaan untuk kalian dan laknat untuk kalian. Rasul Saw menjawab, “ya Aisyah Allah itu lebih senang kasih sayang dalam segala hal”. Aisyah Ra berkata, “ya Rasulullah kau tidak dengar ucapan mereka?", Rasul menjawab, “aku sudah jawab wa’alaik, juga untuk kalian, kalian mendoakan kebaikan balik kepada kalian, kalian mendoakan kejahatan balik kepada kalian sendiri”. Demikian kalimat ini, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal.

Disinilah hadirin – hadirat, kita lihat tuntunan Nabi kita Muhammad Saw selalu di dalam kelembutan dan kasih sayang dalam segala hal bahkan dalam peperangan. Di dalam jihad fisabilillah kelembutan dijalankan oleh sang Nabi Saw, belum pernah ada peperangan selembut cara peperangan muslimin, tidak boleh memukul wajah, tidak boleh menyerang orang yang tidak bersenjata, tidak boleh memukul wanita dan anak-anak. Demikian banyaknya peraturan-peraturan di dalam islam ini disaat berperang.

Perang itu ternyata bukanlah luapan emosi, tetapi juga menahan diri dari kemarahan dan juga berkasih sayang, sehingga Rasul Saw melarang memukul wajah, kalau senjata musuh sudah jatuh tidak boleh diserang lagi, kalau musuh mengucap syahadat tidak boleh diteruskan sampai ketika Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw telah mengangkat pedangnya ketika musuhnya telah berhasil dirobohkan dan ia diludahi wajahnya.

Maksudnya adalah didalam hatinya sebelum aku mati dibunuh Ali bin Abi Tholib Kw, biar aku ludahi dulu wajahnya, lalu Sayyidina Ali Kw mundur dan meninggalkan orang itu. Sahabat berkata “wahai Ali sudah tinggal satu pukulan lagi”, Sayyidina Ali Kw berkata, “aku risau nanti ada tercampur emosi di dalam perbuatanku”. Ini hadirin bukan kita, tapi kalau kita barangkali bisa ada emosi tapi kalau orang semacam Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw, tarbiyah Nabi Saw dan beliau adalah babul ‘ilm, masih risau ada sebutir emosi merusak pahala jihadnya, sehingga meninggalkan orang yang meludahi wajahnya dan beliau mundur takut tercampur sedikit niat yang kurang baik yaitu emosi disaat ia melawan musuhnya.

Ini hadirin – hadirat jelas-jelas sudah sabda Nabiyyuna Muhammad Saw, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal maka dengan itulah dakwah sang Nabi Saw berhasil dan maju sampai ke Barat dan Timur. Jika engkau itu bengis dan kasar maka orang akan pergi meninggalkanmu wahai Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul Saw bercerita diriwayatkan oleh Abdullah Ra, “aku mendengar Nabi Saw bercerita bahwa ada Nabi dari diantara para Nabi, ketika ia di dalam peperangan ia diserang sampai luka wajahnya”. Rasul Saw menceritakan ada diantara para Nabi, ketika sedang diserang oleh musuh-musuhnya terluka wajah Nabi tersebut, ia mengusap darah dari wajahnya dan berkata “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka tidak tahu”.

Al Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dinukil oleh Al Imam Ibn Hajar di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa Nabi diantara para Nabi-Nya yang diceritakan oleh Nabi Muhammad Saw itu adalah Nabi Muhammad Saw sendiri, karena apa? karena belum pernah terlukis dan teriwayatkan ada Nabi yang berbuat seperti itu terkecuali Nabi Muhammad Saw, cuma beliau tidak mau menyebutkan dirinya, disebutkan ada diantara para Nabi, padahal beliau Saw sendiri.

Imam Ibn Hajar menukil ucapan Imam Qurthubi bahwa kejadian itu adalah disaat perang uhud, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa saat itu Rasul Saw terkena panah besi sampai menembus rahangnya dan darah mengalir, Nabi Saw menadahi darah itu jangan sampai menetes ke bumi. Para sahabat berkata, “ya Rasulullah, kita obati dulu ini yang diwajahmu, jangan fikirkan darah yang menetes”.

Diriwayatkan oleh Imam Ibn Hajar mensyarah hadits ini, Rasul Saw berkata, “ kalau ada setetes darahku yang jatuh ke bumi, Allah akan melimpahkan bala pada mereka”. Orang yang memerangi Sang Nabi Saw, kalau sampai darah beliau Saw tumpah dari wajah ini dan menetes ke bumi, Allah turunkan bala. Nabi Saw lebih memikirkan jangan bala turun pada kaumnya dengan menjaga darah yang menetes, jangan sampai ke bumi. Lupa dengan darah dan luka yang melebar di wajahnya. Terfikir ini musuhnya nanti kena musibah oleh Allah, dijaga jangan sampai ada tetes darah yang turun, jangan sampai menyentuh bumi, jangan celaka mereka dan didoakan, “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka itu tidak tahu”. Tentu wahai Rasul, kalau mereka tahu, mereka akan menciumi kakimu dan tidak akan memerangimu.

Demikian hadirin – hadirat indahnya budi pekerti Nabi Muhammad Saw dan perjuangan dan niat beliau. Untuk membenahi permukaan Barat dan Timur ini, tidak wafat dengan wafatnya beliau tapi terwariskan dari zaman ke zaman. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul Saw, “orang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan sampai ia menyerahkan saudaranya kepada musuh atau berkhianat kepada saudara muslimnya, jangan pula mendholiminya”. Barangsiapa yang ia perduli kepada kebutuhan saudaranya, Allah perduli kepada kebutuhannya kata Rasul Saw. Demikian indahnya hadirin – hadirat iman kita dan tuntutan Sang Nabi, selama kita memikirkan kebutuhan orang lain, Allah akan membantu kebutuhan kita.

Disini hadirin kita terpanggil untuk membela orang-orang yang membutuhkan dari saudara kita dan tentunya yang paling berhak dibela adalah Sayyidina Muhammad Saw. Bela dakwah beliau, benahi umat ini, bisa dengan telepon, bisa dengan sms, bisa dengan ucapan, bisa dengan harta, bisa dengan apapun agar kita mengajak teman-teman, saudara-saudara kita kembali kepada taubat, kembali kepada hidayah, meninggalkan kemungkaran. Selama engkau memikirkan ini, Allah akan mementingkan hajat dan kebutuhanmu. Inilah janji Allah dan Rasul, maka barangsiapa yang perduli kepada kebutuhan dan kesulitan temannya, Allah akan perduli kepada kesulitannya dunia sampai di akhirat.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, seseorang ketika sudah habis pahalanya, ia sudah diberdirikan di atas jurang neraka, maka Allah Swt berkata kepada para malaikat, “bebaskan ia”, malaikat bertanya, “kenapa wahai Allah?, sudah tidak punya amal, dosanya banyak”, Allah menjawab, “ia dahulu ketika di muka dunia sering menolong masalah orang lain, Aku malu untuk menjatuhkannya ke dalam kehinaan karena ia selalu menolong orang lain, Aku lebih berhak menolong orang lain dan Aku menolongnya”. Ia tidak punya pahala lagi, habis oleh dosa-dosanya akan tetapi jiwa kasih sayang seperti ini, maka barangsiapa yang perduli tentang keperluan saudaranya maka Allah akan memperdulikan kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Rasul Saw bersabda, “tolong teman-temanmu yang dholim dan teman-temanmu yang didholimi”.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari para sahabat bertanya, “ya Rasulullah kami tau kalau menolong orang yang didholomi, kalau menolong orang yang dholim apa maksudnya ya Rasulullah?, ia sudah dholim lalu kami tolong dia”. Rasul Saw menjawab, “selamatkan orang-orang yang dholim agar jangan lagi berbuat dholim, tuntun mereka pada kemuliaan, tuntun mereka kepada kesucian hidup, tuntun mereka kepada kelembutan Allah Swt, selamatkan mereka orang-orang yang dholim dan orang-orang yang didholimi”. Demikian indahnya tuntunan Nabi kita Muhammad Saw.

Hadirin – hadirat semakin kita dalami hari-hari mulia bersama tuntunan Sang Nabi, semakin indah hidup kita. Kita bermunajat kepada Allah Swt semoga Allah menerangi jiwa kita dengan kelezatan iman, dengan manisnya iman, Ya Rahman Ya Rahiim tangan – tangan penuh dosa ini terangkat kehadirat-Mu meminta dan mengemis kepada-Mu Yang Maha Luhur, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim jadikan kami orang – orang yang mencintai-Mu dan mencintai Nabi-Mu melebihi dari segala-galanya.

Rabbiy paling tidak satu kejab dua kejab Kau rasakan pada kami kelezatan iman, Kau rasakan pada kami lezatnya menyebut Nama-Mu, Kau rasakan pada kami lezatnya kebersamaan denganMu hingga kami terlupakan dari seluruh kenikmatan dan seluruh masalah ketika kami menyebut Nama-Mu, ketika bibir ini bergetar memanggil Nama-Mu.

Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim inilah dosa – dosa dan Kaulah Yang Maha Mengampuni, tiada yang mengampuni terkecuali Engkau dan Engkau telah berlemah lembut kepada kami, menghadirkan kami di majelis dan perkumpulan mulia ini dan siap melimpahi rahmat dan inayah kepada kami setelah kami selesai dari majelis ini ya Rabb, Wahai Nama Yang Maha Dermawan, Wahai Nama Yang Maha Pemurah, Wahai Nama Yang Maha Baik, Wahai Nama Yang Maha Menyejukkan Semua Jiwa, tenangkan jiwa kami dalam kehidupan yang sementara ini dan tenangkan hari – hari kami dan tenangkan juga malam kami sampai kami wafat, jadikan selalu ketenangan dan kesejukkan iman bersama kami.

Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
Fakullu jami’an Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahiim, tidak Kau biarkan Rabbiy setiap kali kami menyebut Nama-Mu terkecuali Kau semakin dekatkan kami kehadirat-Mu, kecuali Kau makin jatuhkan dosa – dosa kami, kecuali Kau perbanyak Kedermawanan Rahmat dan Anugerah.

Fakullu Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman..Ya Rahiim..dosa – dosa kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kami mengaku bersalah, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kesalahan kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. api neraka, Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah..

Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
Fakullu jami’an Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Muhammadurrasulullah. Insya Allah ta’ala minal aminin. Allah Swt berfirman, “orang – orang yang beriman akan tenang jiwa mereka dengan menyebut Nama Allah”. Dengan menyebut Nama Allah akan tenanglah jiwa.

Hadirin – hadirat esok malam Insya Allah kita berkumpul lagi di masjid ini , di dalam isra wal mi’raj Nabiyyuna Muhammad Saw dan akan membaca Allah sebanyak 1000X dan Insya Allah persiapkan malam ini hingga esok perbanyak dzikir dan doa hingga esok malam jiwa kita benar – benar terang benderang dengan cahaya keberkahan di dalam dzikrullah. Wassalallahu wassallam wabarik 'ala Nabina Muhammadin wa'ala alihi washohbihi wassallam. Walhamdulillahirabbil'alamin.wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Khamis, 19 Jun 2008

Makna Zuhud


Malam tadi, Usrah pimpinan ABIM membicarakan berkenaan dengan zuhud. panjag sekali perbincangan yang di utarakan. manun ingin ku kongsikan bersama sahabat kalian berkenaan zuhud.Disarikan dari Kitab Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin, Syaikh Ahmad bin Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah

Zuhud.

Ketahuilah bahwa cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, sedangkan zuhud terhadap dunia merupakan maqom yang mulia. Dan yang dimaksud dengan zuhud adalah memalingkan diri dari sesuatu yang disukai demi untuk sesuatu yang lebih baik. Telah ma’ruf bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan dunia, barangsiapa yang meninggalkan segala sesuatu selain ALLAH maka disebut zahid yang sempurna.

Bukanlah yang disebut Zuhud itu meninggalkan harta, tetapi yang disebut zuhud itu meninggalkan dunia karena tahu kerusakannya dan berpaling pada akhirat yang kekal. Firman ALLAH SWT: “Apa-apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang disisi ALLAH kan kekal” (QS An-Nahl 16/96). Berkata al-Fudhail: ALLAH menciptakan keburukan dalam satu rumah dan menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya, dan ALLAH menciptakan kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan Zuhud sebagai kuncinya.

Tingkatan Zuhud ada 3:
1. orang yang berusaha untuk Zuhud terhadap dunia dan ia merasa berat, tetapi ia terus berusaha sekuat tenaga, orang ini disebut sebagai mutazahhid dan ini tingkatan yang terendah.
2. Ia telah mampu zuhud dengan sukarela tanpa harus menguras kemampuan, tetapi ia dapat melihat kezuhudannya dan dapat merasakan bahwa ia telah meninggalkan dunia dan merasa senang karenanya.
3. yang tertinggi adalah yang zuhud dengan mudah, dan ia sudah demikian zuhud sehingga merasa biasa saja dengan kezuhudannya karena ia sudah merasa bahwa dunia itu tidak ada nilainya sedikitpun, maka jadilah ia seperti orang yang membuang kotoran dan pergi tanpa menoleh ataupun mengingat lagi, padahal dunia jika dibandingkan dengan sampah masih lebih hina lagi nilainya

Zuhud dilakukan terhadap berbagai hal sebab:

1. Zuhud terhadap makanan, dalam hadits Nabi SAW disebutkan kata A’isyah ra kepada keponakannya ‘Urwah: “Telah berlalu atas kami bulan baru, bulan baru, bulan baru (3 bulan) sementara tidak pernah menyala api di dapur rumah Nabi SAW dan keluarganya, maka ditanyakan oleh ‘Urwah: Wahai bibinda maka dengan apa kalian makan? Dijawab: Dengan air dan kurma.” (HR Bukhari 8/121 dan Muslim 8/217)

2. Zuhud terhadap pakaian, diriwayatkan dari Abi Bardah: “Telah keluar A’isyah ra pada kami membawa sehelai selendang kasar dan selembar kain keras sambil berkata: Telah dibungkus jasad Nabi SAW dengan kain seperti ini.” (HR Bukhari 7/195, Muslim 6/145, Abu Daud 4036 dan Turmudzi 1733) Dan berkata Al-Hasan ra: Umar ra pernah berkhutbah saat ia menjabat presiden sementara di bajunya aku hitung ada 12 bekas jahitan.

3. Zuhud terhadap tempat tinggal, dalam hadits disebutkan: “Seorang muslim diberi pahala dari semua harta yang dinafkahkannya, kecuali dari apa yang dibuatnya dari tanah ini (bangunan).” (HR Ibnu Maajah 4163), berkata al-Hasan ra: Aku jika memasuki rumah Nabi SAW, maka kepalaku menyentuh atap daun kurmanya.

4. Zuhud dalam alat rumah tangga, dalam hadits disebutkan kata Umar ra: “Saya masuk ke dalam rumah Nabi SAW, sedang ia bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya, maka aku melihat pada perabotannya hanya kulihat segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (HR Bukhari 7/38, Muslim 4/189, 191)

Zuhud yang terbaik menurut Ibnul Mubarak adalah yang menyembunyikan kezuhudannya dari manusia, ciri-cirinya adalah:

1. Ia tidak merasa senang dengan adanya sesuatu dan tidak merasa sedih dengan ketiadaannya, sebagaimana firman ALLAH SWT: “Agar engkau tidak berputus asa atas apa yang hilang darimu dan merasa senang dengan apa yang ada padamu.” (QS al-Hadiid 23) Dan inilah zuhud dalam harta.

2. Sama baginya dicela atau dipuji, ini merupakan tanda zuhud terhadap kedudukan.

3. Sangat dekat ia dengan ALLAH, dan hatinya dikuasai kelezatan taat pada ALLAH SWT.

Ketahuilah bahwa antara cinta pada ALLAH dengan cinta pada dunia sebagaimana air dengan udara dalam sebuah bejana, jika air masuk maka udara akan keluar dari bejana itu sebanyak air yang masuk, maka ada bejana yang dipenuhi air, 2/3 nya, 1/2 nya, dan seterusnya sampai ada yang kosong sama sekali dari air. Maka dimanakah letak hatimu ?!

In uriidu illal ishlaaha mas tatho’tu …

Rabu, 28 Mei 2008

Jangan bimbang miskin kerana bersedekah

Oleh: Dr. Muhammad Zulkifli al-Bakri




Al-Maghaghi berkata, selepas Allah menggalakkan pada ayat terdahulu berkenaan infak dan menerangkan kelebihan berinfak dan juga kepada ummah yang saling tolong menolong serta bertakaful antara golongan yang kuat dan lemah.

Sayyid Qutub berkata: “Keselarasan dapat dilihat dengan jelas pada kenyataan penamat ini dari segi keumuman dan kesyumulan nas itu sama ada di permulaan ayat atau pada akhirnya seolah-olah kenyataan penamat ini merupakan nada akhir yang meliputi segala-galanya walaupun pendek”.

Firman Allah: Orang yang menafkahkan hartanya (ke jalan Allah).

Ibn Kathir berkata: Pujian ini daripada Allah kepada yang bersedekah pada jalan-Nya untuk mencari keredaan dalam semua waktu sama ada malam atau siang. Begitu juga tersembunyi atau nyata sehingga menafkahkan kepada keluarga termasuk dalam hal ini.

Al-Sya’rawi berkata: Masalah infak terbahagi dua sama ada secara jelas atau sembunyi dan dari segi masanya pula malam dan siang.

Mengikut Imam al-Maghaghi, ayat ini diturunkan kepada Abu Bakar al-Siddiq yang bersedekah sebanyak 40,000 dinar dan 10,000 dinar pada waktu malam, 10,000 pada waktu siang, 10,000 secara sembunyi dan 10,000 secara terang-terangan.

Sayyid Qutub berkata: Demikianlah ia jelaskan secara umum meliputi segala jenis hartanya.

Hamka berkata hati mereka terbuka terus, dan pintu rumah mereka terbuka, dan peti simpanan mereka pun terbuka. Malam atau siang. Didahulukan di dalam ayat ini menyebut malam daripada siang; kerana ada orang yang kesusahan tengah malam mengetuk pintu rumahnya, ataupun dia sendiri pun teringat membantu orang yang susah, sehingga matanya tidak mahu tidur, malam hari pun dia berjalan juga untuk menghantarkan perbuatannya. Sedangkan malam dia begitu. Apatah lagi pada siang hari. Dan dia pun memberikan secara rahsia kepada yang patut menerimanya, ataupun secara terang-terangan kerana patut terang-terang, namun jiwanya ialah jiwa yang selalu ingin memberi, sebab jiwa itu telah tergembleng oleh iman.

“Sikapnya yang demikian disambut oleh Tuhan dengan janji Allah pasti benar, bahawa dia akan diberi pahala, ganjaran dunia dan akhirat, terutama di akhirat. Dan dikuatkan Tuhan semangatnya,” kata Hamka.

Firman Allah: Di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan.

Al- Imam Nasafi berkata: Sama ada bersedekah dalam semua waktu dan keadaan bagi menggalakkan kebaikan apabila keperluan berlaku hendaklah ditunaikan tanpa mengira waktu dan keadaan.

Sayyid Qutub berkata: Ia merangkumi segala waktu dan segala keadaan.

Firman Allah: Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

Al-Imam Baghawi menaqalkan riwayat daripada mujahid daripada Ibn Abbas katanya: Ayat ini diturunkan kepada Ali hanya yang mempunyai 4 dirham tidak yang lain, beliau telah bersedekah 1 dirham waktu malam, 1 dirham waktu siang, 1 dirham secara terang dan 1 dirham secara sembunyi.

Ibn Jauzi berkata, ayat ini turun kepada mereka yang mengikat kuda mereka pada jalan Allah, inilah riwayat Ibn Abbas.

Sayyid Qutub berkata: “Demikianlah ia jelaskan secara umum bahawa mereka akan mendapat harta yang berlipat-ganda, keberkatan umur, balasan di akhirat dan keredaan Allah”.

Firman Allah: Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Sayyid Qutub berkata: “Yakni tiada apa-apa kebimbangan dari sesuatu yang boleh menakutkan mereka dan tiada apa-apa yang dukacita dari sesuatu yang boleh mendukacitakan mereka sama ada di dunia atau di akhirat. Itulah keselarasan yang terdapat dalam kata penamat perlembagaan sedekah yang lurus, yang menyarankan keumuman dan kesyumulan”.

Walau bagaimanapun, Islam tidak menegakkan kehidupan pemeluknya di atas pemberian sedekah. Ini kerana seluruh sistem Islam adalah ditegakkan pertamanya di atas dasar kemudahan kerja dan rezeki kepada setiap orang yang mampu mencari makan dan di atas dasar pengagihan kekayaan yang baik di antara para pemeluknya, iaitu mengagihkan kekayaan itu berdasarkan pertimbangan yang benar dan adil di antara usaha dan ganjaran.

Namun, terdapat keadaan yang terkecuali kerana sebab yang khas dan keadaan inilah yang diatasi dengan sedekah. Kadang-kadang dalam bentuk zakat yang wajib dipungut oleh kerajaan Islam yang melaksanakan syariat Allah semuanya. Inilah satu-satunya kerajaan yang berhak memungut zakat itu.

Ia merupakan salah satu sumber yang penting dari sumber-sumber kewangan negara bagi kerajaan Islam, dan kadang-kadang pula dalam bentuk sedekah sukarela yang tidak terbatas yang diberikan secara langsung oleh orang-orang yang mampu kepada orang yang tidak mampu dengan memelihara peradaban-peradaban yang telah diterangkan sebelum ini. Juga memelihara sifat menjaga diri dan segan meminta para penerima sedekah yang telah digambarkan dengan jelas oleh ayat ini.

Sifat ini telah diasuh oleh Islam di dalam jiwa para penganutnya dan membuat seseorang daripada mereka merasa segan untuk meminta-minta pada orang lain walaupun ia mempunyai harta yang terlalu sedikit untuk memenuhi keperluan hidupnya.

Hamka berkata: “Kerana hatinya yang lapang lantaran iman, dunia pun lapang di depannya. Di dalam dia tidak takut akan miskin kerana dermawan, sebab tiap-tiap yang dibelanjakannya itulah merupakan keyakinannya yang sebenarnya kekayaannya. Yang masih belum dibelanjakan, belumlah tentu jadi kekayaan. Dan dia tidak akan berdukacita, sebab Tuhan berdaulat dalam hatinya, dan pintu syurga Jannatun-Na’im selalu terbuka, menunggu kedatangannya.”

Al-Hasil berkata: Tidaklah dapat berkumpul dalam hati seorang mukmin di antara iman dengan bakhil. Dan bakhil adalah alamat yang sangat nyata daripada kosongnya iman. Sebab itu maka didikan iman daripada al-Quran yang kita terima langsung tidaklah dapat dipenuhi kitab-kitab yang lain.

Khamis, 22 Mei 2008

Hidup Zuhud



Manusia adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan.

Kebahagiaan tergantung pada pola hidup. Islam menganjurkan pola hidup zuhud. Apakah zuhud itu? Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran. ''Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.'' (QS Al-Hadid: 23).

Ada dua ciri zahid (individu yang menjadikan zuhud sebagai pola hidup). Pertama, zahid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimiliki. Bila bahagia ditambatkan pada kendaraan yang dimiliki, kala kendaraan itu tergores, hilanglah bahagia yang bersemayam di dada. Jika hati dilabuhkan pada yang dimiliki, maka saat apa yang dimiliki itu terlepas dari genggaman, terlepaslah kebahagiaannya.

Kedua, kebahagiaan zahid tidak terletak pada materi, tapi pada dataran spiritual. Hidup akan menjelma menjadi guyonan yang mengerikan bila makna bahagia disandarkan pada benda. Sebab, benda hanya menunggu waktu untuk lenyap.

''Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.'' (QS Al-Rahman: 26-27). Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya. ''Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukkan jarinya dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya. (HR Muslim).

Oleh sebab itu, zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal. ''Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah SWT dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.'' (HR Ahmad).

Dalam hadis Qudsi, diriwayatkan, ''Allah berfirman wahai dunia, berkhidmatlah kepada orang yang telah berkhidmat kepada-Ku, dan perbudaklah orang yang mengabdi kepadamu. (HR Al-Qudlai).

Ringkasnya, rumus hidup bahagia adalah kemampuan memilih nikmat yang abadi di atas kenikmatan yang fana. Bagaimana supaya baju zuhud dapat dikenakan? Dalam Nashaih Al-Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah Ibrahim bin Adham tentang mencapai zuhud.

Beliau menjawab, ''Ada tiga sebab. Saya melihat kuburan itu mengerikan, sedangakan belum kudapati pelipur (atasnya). Saya melihat jarak perjalanan amatlah jauh, padahal belum kumiliki bekal, dan saya melihat Allah yang Maha perkasa akan mengadili, padahal belum kudapati alasan (untuk mengelak dari hukumannya).''