Memaparkan catatan dengan label Ibadah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Ibadah. Papar semua catatan

Ahad, 27 Disember 2009

10 Muharram Antara Sejarah Dan Keutamaannya

Oleh : Sofyan Effendi A
http://yans090781.blogspot.com/2007/12/10-muharram-antara-sejarah-dan.html

Sejarah Tahun Baru Islam

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya “dilarang”. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya.
Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (Syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula.

Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan kalender Islam, atau lebih terkenal dengan "tahun Hijriah". Berbeda dengan tahun Masehi yang dihitung berdasarkan perputaran Bumi terhadap Matahari, tahun Hijrian dihitung berdasarkan perputaran Bulan terhadap Bumi. Satu bulan terdiri atas 29 atau 30 hari, dan satu tahun terdiri atas 12 bulan. Sesuai dengan namanya, Hijriyah yang berarti hijrah atau berpindah, hitungan "1" kalender Islam dimulai ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah. Ini bertepatan pada hari Jumat 16 Juli 622 Masehi - Usia Rasul saat itu sekitar 53 tahun. Rasulullah hijrah sesuai dengan perintah Allah, yang salah satu analisisnya adalah menyelamatkan kaum muslimin dari siksaan kaum kafir di kota Makkah. Sebelumnya, sebagian besar kaum muslimin sudah hijrah terlebih dahulu dan tidak mendapatkan rintangan dari kaum kafir - kelak mereka disebut kaum Muhajirin, yaitu kaum yang hijrah. Di dalam rombongan itu tedapat Umar bin Khatab r.a., yang dengan lantang dan gagahnya berkata, "Ini Umar hendak hijrah, siapa yang ingin istrinya menjanda dan anaknya yatim karena ingin menghalangi Umar silakan maju!"

Penggunaan sistem perhitungan Islam belum dilakukan di masa Rasulullah SAW masih hidup. Juga tidak dilakukan di masa khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Secara singkat sejarah digunakannya sistem perhitungan tahun Islam bermula sejak kejadian di masa Umar bin Al-Khattab ra. Salah satu riwayat menyebutkan yaitu ketika khalifah mendapat surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa angka tahun. Beliau lalu bermusyawarah dengan para shahabat dan singkat kata, mereka pun berijma’ untuk menjadikan momentum tahun di mana terjadi peristiwa hijrah nabi sebagai awal mula perhitungan tahun dalam Islam.

Sedangkan sistem kalender qamariyah berdasarkan peredaran bulan konon sudah dikenal oleh bangsa Arab sejak lama. Demikian juga nama-nama bulannya serta jumlahnya yang 12 bulan dalam setahun. Bahkan mereka sudah menggunakan bulan Muharram sebagai bulan pertama dan Zulhijjah sebagai bulan ke-12 sebelum masa kenabian.
Sehingga yang dijadikan titik acuan hanyalah tahun dimana terjadi peristiwa hijrah Nabi SAW. Bukan bulan dimana peristiwa hijrahnya terjadi. Sebab menurut riwayat beliau dan Abu Bakar hijrah ke Madinah pada bulan Sya’ban, atau bulan Rabiul Awwal menurut pendapat yang lain, tapi yang pasti bukan di bulan Muharram. Namun bulan pertama dalam kalender Islam tetap bulan Muharram.

Penting untuk dicatat disini adalah pilihan para shahabat menjadikan peristiwa hijrah nabi sebagai titik tolak awal perhitungan kalender Islam. Mengapa bukan berdasarkan tahun kelahiran Nabi SAW? Mengapa bukan berdasarkan tahun beliau diangkat menjadi Nabi? Mengapa bukan berdasarkan tahun Al-Qur’an turun pertama kali? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya perang Badar? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya pembebasan kota Mekkah? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya haji Wada’ (perpisahan) dan mengapa bukan berdasarkan tahun meninggalnya Rasulullah SAW?
Jawabannya adalah karena peristiwa hijrah itu menjadi momentum di mana umat Islam secara resmi menjadi sebuah badan hukum yang berdaulat, diakui keberadaannya secara hukum international. Sejak peristiwa hijrah itulah umat Islam punya sistem undang-undang formal, punya pemerintahan resmi dan punya jati diri sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sejak itu hukum Islam tegak dan legitimate, bukan aturan liar tanpa dasar hukum. Dan sejak itulah hukum qishash dan hudud seperti memotong tangan pencuri, merajam/mencambuk pezina, menyalib pembuat huru-hara dan sebagainya mulai berlaku. Dan sejak itulah umat Islam bisa duduk sejajar dengan negara/kerajaan lain dalam percaturan dunia international.

Keutamaan 10 Muharram

Bagi orang Syiah 10 Muharram adalah peristiwa yang tidak dapat mereka lupakan dan mereka menganggap sebagai hari agung yang wajib diperingati setiap tahunnya, tanggal 10 Muharram 61 H atau tanggal 10 Oktober 680 merupakan hari pertempuran Karbala yang terjadi di Karbala, Iraq sekarang. Pertempuran ini terjadi antara pasukan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Husain bin Ali beranggotakan sekitar 70-an orang melawan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad, atas perintah Yazid bin Muawiyah, khalifah Umayyah saat itu.
Pada hari itu hampir semua pasukan Husain bin Ali, termasuk Husain-nya sendiri syahid terbunuh, kecuali pihak perempuan, serta anak Husain yang sakit bernama Ali bin Husain. Kemudian oleh Ibnu Ziyad mereka dibawa menghadap Khalifah di Damaskus, dan kemudian yang selamat dikembalikan ke Madinah.

Sebelum Islam datang, Hari Asyura sudah menjadi hari peringatan dimana beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah, ia mengetahui bahwa Yahudi di daerah tersebut berpuasa pada hari Asyura - bisa jadi saat itu merupakan hari besar Yahudi Yom Kippur . Saat itu, Muhammad menyatakan bahwa Muslim dapat berpuasa pada hari-hari itu.

Asyura merupakan peringatan hal-hal di bawah ini dimana Muslim, khususnya Sunni percaya terjadi pada tanggal 10 Muharram.

  1. · Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar.
  2. · Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz.
  3. · Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemua dengan Nabi Yusuf pada hari asyura.
  4. · Nabi Musa selamat dari pasukan Fir'aun
  5. · Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal.
  6. Sahabat bertanya; Ya, Rasulullah, Allah telah melebihkan hari Assyuuraa' dari lain-lain hari. Jawab Rasulullah: Benar!.
  7. · Allah telah menjadikan langit dan bumi pada hari Assyuuraa'.
  8. · dan menjadikan Adam juga Hawa pada hari Assyuuraa';
  9. · dan menjadikan Syurga serta memasukkan Adam di syurga pada hari Assyuuraa';
  10. · dan Allah menyelamatkan dari api neraka pada hari Assyuuraa';
  11. · dan menenggelamkan Fir'aun pada hari Assyuuraa';
  12. · dan menyembuhkan bala Nabi Ayyub pada hari Assyuuraa'
  13. · dan Allah memberi taubat kepada Adam pada hari Assyuuraa';
  14. · dan diampunkan dosa Nabi Daud pada hari Assyuuraa';
  15. · dan juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Assyuuraa';
  16. · dan akan terjadi Qiyamat pada hari Assyuuraa'

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah berkata;
Hari Assyuuraa' ialah hari diterimanya taubatnya Nabi Adam. Dan hari itu pula hari turunnya Nabi Nuh dari perahunya. Maka ia berpuasa syukur; dan ia pula hari tenggelamnya Fir'aun dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Maka mereka berpuasa; kerana itu jika dapat; engkau berpuasalah pada hari Assyuuraa'. Dinamakan Assyuuraa' kerana ia jatuh pada sepuluh bulan Muharram.

Ada lain pendapat yang mengatakan hari Assyuuraa' kerana Allah telah memuliakan pada Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan;

1. Allah telah menerima taubat Nabi Adam a.s.
2. Allah menaikkan darjat Nabi Idris a.s.
3. Hari berlabuhnya perahu Nabi Nuh a.s.
4. Nabi Ibrahim a.s dilahirkan pada hari Assyuuraa' dan diangkatkan sebagai kholilulLah juga diselamatkan dari api.
5. Allah menerima taubat Nabi Daud a.s.
6. Allah mengangkat Nabi Isa a.s. ke langit
7. Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s.
8. Allah menenggelamkan Fir'aun
9. Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan
10. Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Semua ini terjadi pada hari Assyuuraa' . Sebahagian lain berpendapat, dinamakan hari Assyuuraa' kerana ia kesepuluh dari kemulian-kemulian yang diberikan Allah pada umat ini.
Pada bulan ini juga tepatnya, tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah SAW menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah SWT.
Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah jadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Ibu Abbas ra, bahwa Nabi SAW, ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasulullah SAW, berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. Daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa”. (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, ketika Nabi s.a.w. tiba di Madinah, Baginda melihat orang yahudi berpuasa pada hari asyura. Nabi pun bertanya, "Hari apa ini ?". Jawab mereka, "Hari ini ialah hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dari musuh mereka, kerana itu Nabi Musa berpuasa kerananya". Sabda Nabi, "Aku lebih berhak daripada kamu dengan Musa". Oleh itu Nabi berpuasa dan menyuruh orang lain berpuasa pada hari asyura.(Sahih Bukhari)
Rasulullah s.a.w. bersabda; "Berpuasa kamu pada hari ke sembilan dan sepuluh Muharam dan jangan meniru cara orang-orang Yahudi." - Riwayat Al Baihaqi

Selain keutamaan demi keutamaan yang telah disebutkan di atas, mungkin disebagian masyarakat lazim dan mengenal istilah bulannya yatim, yaitu menyelenggarakan sebuah acara dimana mereka memberikan santunan kepada para anak yatim di hari yang telah ditentukan dalam setiap tahun baru muharram, yaitu antara 9 dan 10 Muharram setiap tahunnya. Ada kesan lain yang patut disoroti dari perayaan tahun baru anak yatim diwajibkannya untuk memuliakan anak yatim, menanggung kehidupannya, menyayanginya, dan segala amal kebaikan yang menyenangi anak Yatim maka ia akan mendapatkan ganjaran seperti dalam hadist sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dari jalan Abu Hurairah, dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“ Orang yang menanggung anak yatim baik anak yatim itu ada hubungan famili maupun tidak, maka saya dan orang yang menanggungnya seperti dua jari ini di dalam surga.”, Malik bin Anas perawi hadist itu mengatakan, Rasulullah memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. Terhadap anak yatim pula kita sebagai muslim dilarang menghardiknya (QS. Adh Dhuha (93) : 9), dan dalil-dalil lainnya yang memiliki kaitannya dengan muamalah terhadap anak yatim.

Abul-Laits Asssamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a berkata: Nabi SAW. bersabda;

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari Assyuuraa' yakni 10 Muharram, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 10,000 malaikat; dan barangsiapa yang puasa pada hari Assyuuraa', maka akan diberikan pahala 10, 000 orang Haji dan Umrah, dan 10, 000 orang mati syahid; dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Assyuuraa', maka Allah akan menaikkan dengan rambut satu darjat. Dan barangsiapa yang memberi buka puasa orang mukmin yang berpuasa pada hari Assyuuraa', maka seoleh-oleh memberi buka puasa semua umat Muhammad SAW. dan mengenyangkan perut mereka”.

Tentu kita tidak akan melewatkan kesempatan demi kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk mencari kebaikan sebanyak-banyaknya dari bulan Muharram ini, termasuk memuliakan anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial kita kepada anak yatim, dan tentu hendaknya bukan hanya pada bulan Muharram saja kita peduli pada mereka, dibulan-bulan berikutnya selayaknya kita tetap menyantuni anak-anak yang tak mampu, karena apalah artinya kita mengagung-agungkan bulan Muharram sebagai bulan yatim tapi ketika Muharram habis, kita tidak memperdulikan dan bersikap acuh serta seolah-oleh tutup telinga terhadap mereka.

Jumaat, 4 Disember 2009

Ilmu menjadikan kita takut kepada Allah

Oleh: Panel penyelidik Yayasan Sofa

Pada hari ini, kita melihat rata-rata umat Islam di negara ini sudah mula berjinak-jinak dengan majlis-majlis ilmu dan ulama. Di masjid-masjid dan surau-surau majlis-majlis pengajian ilmu semakin rancak diadakan.

Ia mendapat sambutan yang memberangsangkan dari segenap lapisan masyarakat yang dahagakan ilmu dan pentarbiahan hatta terdapat masjid yang mengadakan majlis pengajian pada setiap malam. Ini suatu perkembangan yang baik kepada peningkatan kualiti umat Islam di negara ini dan agama Islam itu sendiri.

Persoalannya, apakah ilmu yang mereka perolehi ini benar-benar memberikan manfaat dan kesan ke dalam diri mereka?

Ketahuilah, bahawa sebaik-baik ilmu ialah ilmu yang menjelmakan perasaan takut kepada Allah SWT. Iaitu, takut yang disertai perasaan membesarkan Allah dan menumbuhkan amal. Allah SWT telah memuji para ulama melalui firman-Nya: Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. (al-Faatir: 28)

Inilah ilmu yang paling bermanfaat kerana ilmulah yang memandu kita ke jalan akhirat. Kalam hikmah ini diungkapkan oleh Sheikh Ibnu Atoillah al Sakandari r.a dalam Hikamnya yang bertajuk al Hikam al Atoiyyah.Terbukti, kalam hikmahnya ini telah mampu melunakkan hati yang keras, menenangkan jiwa yang resah, mengekang nafsu yang rakus dan mengajak manusia menyelami hikmah-hikmah di sebalik kejadian Allah SWT. Semoga kita mendapat manfaat daripadanya.

Adapun orang alim yang tidak mempunyai perasaan takut kepada Allah bukanlah orang alim yang sebenarnya.Lebih-lebih lagi, orang alim yang keinginannya untuk mendapatkan kemewahan dunia, kemegahan dan bersikap takbur dengan ilmunya.Ilmu sebegini hanya akan menjadi hujah ke atasnya di akhirat kelak dan sebab yang akan mengundang bala dan akibat yang buruk kepadanya.

Umar ibn al Khattab r.a pernah berkata, "Perkara yang paling aku takuti berlaku terhadap umat ini ialah munculnya orang yang alim pada lisan tetapi jahil pada hati".

Ini bukanlah ciri-ciri pewaris para nabi kerana pewaris para nabi memiliki sifat zuhud terhadap dunia, berminat terhadap akhirat, ikhlas menyampaikan amanah ilmu dan bertakwa.

Orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat, tidak memiliki sifat bongkak atau takbur, tidak suka mencaci orang lain, berlapang dada, mudah diajak berbincang dan tidak cepat melatah.

Sahl ibn Abdullah r.a pernah berkata: "Janganlah kalian memutuskan satu urusan dari urusan-urusan dunia dan agama kecuali setelah berbincang dengan ulama. Maka kesudahannya akan dipuji di sisi Allah SWT".

Abu Muhammad r.a pernah ditanya: "Wahai Abu Muhammad! Siapakah ulama?" Jawabnya: "Orang-orang yang mengutamakan akhirat daripada dunia dan mengutamakan Allah daripada diri mereka sendiri".

Saidina Umar ibn al Khattab r.a pernah mewasiatkan: "Berbincanglah mengenai urusanmu dengan orang-orang yang takutkan Allah".

Al Wasiti r.a berkata: "Manusia yang paling pengasih ialah ulama, kerana perasaan takut mereka kepada Allah dan kebimbangan mereka terhadap apa yang diajar oleh Allah SWT".

Banyak ayat dan hadis yang menyebut tentang kemuliaan ilmu atau ulama. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Penuntut ilmu dijamin oleh Allah rezekinya".

Ketahuilah, bahawa ilmu yang diulang-ulang sebutannya di dalam al-Quran dan hadis Nabi SAW ialah ilmu yang bermanfaat yang disertai oleh perasaan takut kepada Allah. Bahkan, ilmu yang bermanfaat juga ialah ilmu yang mampu menguasai nafsu dan mengekang syahwat. Disebut juga, ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang membantu pemiliknya mentaati Allah, dan berdiri di atas landasan agama Allah.

Sebahagian Salaf berkata: "Sesiapa yang bertambah ilmunya, maka bertambah jugalah kekhusyukannya (kerendahan hatinya)".

Seorang lelaki bertanya kepada Sheikh Junaid al Baghdadi r.a: "Apakah ilmu yang paling berguna?" Jawabnya, "Ilmu yang menunjukkan kamu kepada Allah SWT dan menjauhkan kamu daripada menurut hawa nafsumu".

Beliau berkata lagi: "Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang menunjukkan pemiliknya kepada sifat tawaduk, sentiasa bermujahadah, menjaga hati, menjaga anggota zahir dari melakukan maksiat, takut kepada Allah, berpaling daripada dunia dan penuntut dunia, menjauhi orang-orang yang mengasihi dunia, meninggalkan apa yang ada di dunia kepada ahli dunia, suka memberi nasihat kepada makhluk, baik perilaku terhadap makhluk, suka duduk bersama golongan fuqara, memuliakan kekasih-kekasih Allah dan menghadapkan diri kepada apa yang mereka utamakan.

"Apabila orang alim yang mencintai dunia dan ahlinya, dan mengumpulkan dunia melebihi daripada keperluannya, maka dia akan lalai daripada akhirat dan ketaatan kepada Allah mengikut kadar kecintaannya kepada dunia".

Allah SWT berfirman (maksudnya): Mereka hanya mengetahui perkara yang zahir nyata dari kehidupan dunia sahaja, dan mereka tidak pernah ingat hendak mengambil tahu tentang hari akhirat. (al-Rum: 7)

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang kasihkan dunia, maka dia telah membahayakan akhiratnya dan siapa yang kasihkan akhirat maka dia telah membahayakan dunianya. Justeru ingatlah, utamakanlah suatu yang kekal (akhirat) daripada yang akan rosak binasa (dunia)". (riwayat Imam Ahmad dan al Hakim)

Fudhail ibn 'Iyadh berkata: "Orang alim ialah doktor agama dan cinta dunia ialah penyakit agama. Apabila doktor telah memasukkan atau mengheret penyakit ke dalam dirinya, maka bilakah masanya dia boleh mengubati orang lain".

Sesiapa yang ilmunya memandunya kepada menuntut dunia, ketinggian di dalamnya, jawatan dan pandangan makhluk, maka ia adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Bahkan, dia tertipu dengan ilmunya.

Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada rosaknya orang alim dengan ilmunya yang diharapkan dapat menyelamatkannya. Kami memohon dengan Allah daripadanya.

Ilmu yang bermanfaat juga ialah ilmu yang diamalkan. Ulama mengumpamakan orang yang menghabiskan banyak waktu menuntut ilmu, duduk selama 40 atau 50 tahun belajar tanpa beramal, seperti orang yang asyik bersuci selama waktu itu dan memperbaharui wuduknya tetapi tidak solat walau satu rakaat. Ini kerana maksud atau tujuan suatu ilmu ialah beramal dengannya sebagaimana tujuan berwuduk adalah untuk melakukan solat.

Berkata sebahagian ulama: "Kalaulah ilmu tanpa takwa itu penentu suatu kemuliaan, nescaya semulia-mulia makhluk Allah ialah iblis".




Jumaat, 3 April 2009

IBADAH

Haramnya Kita Memulai Bersalam Kepada Orang-orang Kafir Dan Caranya Menjawab Salam Kepada Mereka Dan Sunnahnya Mengucapkan Salam Kepada Orang-orang Yang Ada Di Dalam Majlis Yang Di Antara Mereka Ada Kaum Muslimin Dan Kaum Kafir



863. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Janganlah memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan jangan pula kepada orang Nasrani. Maka jikalau engkau semua bertemu dengan salah seorang di antara mereka itu - yakni orang Yahudi atau Nasrani- pada suatu jalanan, maka paksakanlah kepada mereka itu untuk melalui yang tersempit dari jalan itu." (Riwayat Muslim)

864. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau ada golongan ahlulkitab - yaitu orang Yahudi atau Nasrani - memberi salam kepadamu semua, maka ucapkanlah: Wa'alaikum." (Muttafaq 'alaih)

865. Dari Usamah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. berjalan melalui suatu majlis - pertemuan, yang di dalamnya terdapat berbagai campuran antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin yaitu para penyembah berhala dan ada pula orang Yahudi, lalu Nabi s.a.w. memberikan salam kepada mereka." (Muttafaq 'alaih)

BERSUMBER kITAB RIYADUS SOLIHIN, AL-ARIF BILLAH NAWAWI RA

Hikmah penurunan ayat suci al-Quran

AL-QURAN adalah kalam Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw, pembawa amanat yang jujur dan tanggungjawab. Al-Quran yang dibawanya mengandungi undang-undang dan petunjuk bagi umat Islam dalam mengatur tujuan hidup dan kehidupan sejagat.

Firman Allah bermaksud: “(Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu adalah) Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan salah...” – (Surah al-Baqarah, ayat 185).

Apakah al-Quran? ‘Quran’ menurut pendapat yang paling kuat seperti dikemukakan Dr Subhi Al Salih bererti ‘bacaan,’ asal kata qara’a. Kata al-Qur’an berbentuk masdar dengan erti isim maf’ul iatu maqru’ (dibaca).

Dalam al-Quran ada pemakaian kata ‘Quran’ seperti dalam ayat 17 dan 18, Surah al-Qiyaamah. Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya mengumpulkan al-Quran (dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. Kerana itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya.”

Kemudian dipakai kata ‘Quran’ untuk al-Quran yang dikenal sekarang ini.

Ada pun definisi al-Quran adalah: “Kalam Allah yang juga mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.’

Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi selain Nabi Muhammad tidak dinamakan al-Quran seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Injil (Nabi Isa). Dengan demikian pula, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah seperti hadis Qudsi, tidak pula dinamakan al-Quran.

Bagaimanakah al-Quran diwahyukan? Nabi menerima wahyu dengan pelbagai cara dan keadaan, antaranya:

# Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad tidak melihat sesuatu pun, hanya berasa ia sudah berada dalam kalbunya. – (Surah Asy Syuura, ayat 51).

# Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang lelaki yangmengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal kata-kata itu.

# Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng.

Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi. Kadang-kadang pada keningnya keluar peluh walaupun ketika wahyu itu turun pada musim sejuk yang teruk.

Ada kalanya, unta yang Baginda tunggang terpaksa berhenti dan duduk kerana berasa amat berat apabila wahyu itu turun.

# Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang lelaki seperti keadaan di atas, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini disebut dalam ayat 13 dan 14 Surah an-Najm.

Al-Quran diturunkan beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.

Hikmah al-Quran diturunkan secara beransur-ansur itu adalah:

# Lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya ia diturunkan sekali gus secara banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dan riwayat Aisyah.

# Antara ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Perkara ini tidak dapat dilakukan sekiranya al-Quran diturunkan sekali gus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).

# Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa yang berlaku akan lebih mengesankan dan berpengaruh di hati.

# Memudahkan penghafalan.

Orang musyrik bertanya mengapakah al-Quran tidak diturunkan sekali gus seperti disebut dalam al-Quran ayat 32, Surah al-Furqan. “Mengapakah al-Quran tidak diturunkan kepadanya sekali gus?”

Dijawab dalam ayat itu sendiri: “Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu.”

# Ada antara ayat itu jawapan daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan. Perkara ini seperti dikatakan oleh lbnu ‘Abbas. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau al-Quran diturunkan sekali gus.

Isnin, 20 Oktober 2008

SILA BACA KEPADA MEREKA YANG KURANG KEFAHAMAN AGAMA. JANGAN LABEL ORANG SESAT JEE..

PERSOALAN YAQAZAH (Menurut Fatwa Mufti Brunei )

Adakah Harus dan Boleh Menerima Zikir dan Doa daripada Rasulullah SAW pada masa sekarang, waktu yang menerimanya itu jaga atau waktu tidur dalam mimpi?

Berkata Syeikh Abdul Qadir bin Syeikh Abdullah bin Syeikh Al Idrus Baalawi yang hidup tahun 978 Hijrah dan mati tahun 1038 Hijrah dalam kitabnya An Nurus Safir ‘An Akhbaril Quranil ‘Asyir:

Adalah Imam Al Hafiz As Sayuti itu ada banyak karamah terbit daripadanya itu, kebanyakannya itu berlaku sesudah ia mati (dan matinya pada tahun 911 Hijrah)

Berkata Al ‘Alamah Syeikh Zakaria bin Syeikh Muhammad Al Mahalli As Syafie bahawa Imam As Sayuti itu telah ditimpa oleh sesuatu perkara yang besar pada suatu masa, maka saya minta daripadanya, menulis surat wasiat atau pesanan kepada sesetengah anak muridnya, melalui saya, maka Imam As Sayuti enggan berbuat begitu dan Imam itu telah melihatkan kepada saya akan sehelai kertas yang ditulis dengan tangan Imam itu, bahawa:

“Saya telah berhimpun dengan Nabi SAW waktu jaga banyak kali lebih dari 70 kali dan sabda Nabi SAW kepada saya, yang maksudnya:

“Bahawa siapa yang ada keadaannya begini, maka tiadalah ia berhajat pada pertolongan dan bantuan daripada sesiapa.”

Telah dihikayatkan daripada Imam As Sayuti telah berkata:

“Saya telah melihat dalam tidur saya, seolah-olah saya ada di hadapan majlis Nabi SAW, maka saya sebutkan sebuah kitab yang saya telah mula mengarangnya dalam perkara hadis dan sunat iaitu Jam’ul Jawaami’ ,

maka saya berkata kepada Nabi SAW: “Hamba akan bacakan sedikit daripada isi kitab itu,

maka sabda nabi SAW: Bawalah kepada saya, hai guru hadis (Ya Syeikhul Hadis).”

Berkata Imam As Sayuti: “ Mimpi itu suatu khabar gembira kepada saya lebih besar dari dunia dan seluruhnya.”

Dari kitab Khususiyyatu Yaumil Jum’ah karangan Imam As Sayuti dicetak di Damsyik tahun 1386-1966 Hijrah.

Al Habib Syeikh Abdul Qadir Al Idrus itu juga ada mengarang kitab bernama Bifadhailil Ahya’I Kitab “Ahya” karangan Imam Al Ghazali yang mati tahun 505 Hijrah yang terkenal itu dan kisah Imam As Sayuti itu ada disebutkan oleh Syeikh Najmuddin Al Ghazzi dalam kitabnya Al Kawakibus Saairah.

Adalah Al Habib Umar bin Abdul Rahman Al ‘Athas yang empunya ratib bernama “ Ratibul ‘Athas” yang terkenal di Malaysia dan rantau sebelah ini, yang mati pada atahun 1072 Hijrah dan ditanam di Huraidah Hadramaut (Selatan Tanah Arab) , ada berlaku di tangannya beberapa perkara yang ganjil dan pelik atau karamah setengah dari perkara-perkara itu:

1. Apabila Al Habib Umar itu pergi ziarah kubur bapanya Sayyid Abdul Rahman , ia berkata pada kubur bapanya dan ia mengkhabarkan segala perkara dengan penglihatan dan nampak dengan matanya.

2. Kerabatnya berkata sedang kami duduk di rumah kami dan di sisi kami Al Habib Umar Al ‘Athas, maka tiba-tiba ia memerah akan lengan bajunya dengan air bertitik, maka kami bertanya, “Ya Sayyidi, apa air ini?” Ia menjawab, “ Bahawa suatu kumpulan orang kekasih kami, telah rosak perahu mereka di dalam laut Syam (Tanah Hajaz), dan mereka minta tolong daripada kami maka kami datang membantu mereka, mereka dilepaskan oleh Tuhan mereka dari bencana alam, dan basah ini dari air laut itu.”

3. Apabila Habib itu beribadah kepada Tuhannya dengan seorang diri jauh daripada manusia maka Nabi SAW datang kepadanya hal keadaannya nyata dan Nabi SAW menyuruh akan dia mengajak manusia kepada jalan Allah Taala, dan menunjuk dan mengajar mereka. Mengapa saya tiada melihat akan keadaan Rasulullah SAW itu dengan nyata, kerana jikalau terdinding daripada saya oleh Nabi SAW sekejap sahaja, nescaya tiada saya bilangkan diri saya daripada kalangan orang Mukmin, dan mengapa terdinding Nabi SAW daripada saya padahal baginda SAW itu ain wujud saya.

4. Seorang lelaki meminang akan seorang perempuan berkahwin dengannya, maka bapa perempuan dan saudaranya enggan menerimanya, maka ia marah dengan hal yang beraku itu dan ia kembali ke rumahnya dan ia berazam akan membunuh mereka, apabila malam gelap ia menyandang senjatanya dan keluar menuju kepada bapa dan saudara perempuan itu, di antara ia berjalan-jalan tiba-tiba ia merasa seorang yang memegang tangannya seperti harimau yang ganas dan ia berpaling, tiba-tiba ia melihat Habib Umar Al ‘Athas, maka ia tercengang gementar dan Al habib itu berkata, “ Ke mana engkau hendak pergi?” Ia berkata, “Saya ada mempunyai suatu hajat.” Katanya, “ Engkau tiada mempunyai suatu hajat, tetapi engkau keluar ini kerana berbuat begini, begini. Hendaklah engakau kembali ke rumah engkau.” Dan Al Habib itu melepaskan tangannya dan laki-laki itu pun kembali ke rumahnya. Tiada beberapa hari datang bapa perempuan dan saudaranya mengambil hatinya dan menerangkan sebab-sebab penolakan pinangan itu dan meminta maaf. Dan keduanya berkata, “Perempuan itu bagi engkau. Demi Allah kami tiada mengahwinkannya selain daripada engkau.” Kemudian laki-laki itu berkahwin dengan perempuan itu, dan mendapat anak-anak sepertimana khabar gembira yang terbit daripada Al Habib Umar Al ‘Athas itu.

Ini kita petik dari Fathu Rabbin Nas huraian Ratib Habib Umar bin Abdul Rahman Al ‘Athas, telah dihimpunkan oleh Maulana Al ‘Arif Sayyid Hussin bin Almarhum Al ‘Alamah Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Hussin Al ‘Athas dalam bahasa Melayu pada tahun 1342 Hijrah.

Dihikayatkan oleh Abu Abdullah Al Qastalani bahawa ia melihat Nabi SAW dalam tidur dan ia mengadukan kepada Nabi akan sengsara hidup dan fakirnya dan papanya. Maka Nabi SAW mengajarkan dia akan suatu doa.

Dari kitab Al Wasaailu Syafi’ah oleh Imam Muhaddis Sayyid Muhammad Bin Ali Khidr yang mati tahun 960 Hijrah, dan Sayyid itu mengulas doa yang di atas ini.

Ketahui olehmu barangsiapa yang menyebut akan “ Asmaul Husna” yang di atas ini, dan dia berperangai dengan perangai kalangan orang-orang yang terpilih daripada hamba Allah, dan beradab dengan adab wali-wali Allah, maka Allah Taala akan hidupkan roh “Asmaul Husna” akan hati orang itu. Dan Allah akan terangkan akan hatinya dengan cahaya hakikat “Asmaul Husna” itu. Dan ia tiada memohon sesuatu daripada Allah melainkan Allah berikan apa yang ia mohon.

Adalah Habib Al Arifbillah Ahmad bin Hussin bin Abdullah Al ‘Athas, datuk kepada Al Habib Sayyid Muhammad bin Salim bin Ahmad Hussin Al ‘Athas dan Al Habib Sayyid Muhammad bin Salim rh. Itu pengelola masjid Ba’alawi di Bukit Timah di Singapura. Dan Al ‘Alamah datuk Habib Sayyid ‘Alawi bin Thahir Haddad Al Haddar, muftikerajaan Johor yang trdahulu itu adalah anak murid kepada Habib Al Arif Ahmad bin Hussin Al ‘Athas.

Berkata habbib Sayyid ‘Alawi bin Thahir Al Haddad dalam kitabnya ‘Uqudul Almaasi Bimanaaqibi Syaikhil Thoriqah Wa Imaamil Haqiiqah, Al Arifbillah Habib Ammad bin Hussin Al ‘Athas: Kata Syeikh Muhamad bin ‘Audh bin Muhammad Bafadhlu dalam kitab Manaaqibil ‘Arifbillah Al Habib Ahmad bin Hussin Al ‘Athas bagaimana disebutkan oleh Imam Habib Al ‘Idrus bin Umar Al habsyi bahawa Al Habib Al Arif Ahmad Al ‘Athas itu seorang wali Allah yang mutlak dan dia dibenarkan mengkhabarkan apa perkara yang disembunyikan oleh orang lain.

Adalah Al Habib Arifbillah Ahmad bin Hussin Al ‘ Athas itu apabila banyak melihat Rasulullah SAW sehingga berulang-ulang kali semalam hingga tujuh kali.

Adalah Al Habib Al Arifbillah itu apabila ia berasa syak pada suatu hadis maka ia bertanya kepada Nabi SAW.

Adalah Al Habib Al Arifbillah itu dapat mengetahui perkara bohong, katanya saya melihat keluar daripada mulut pembohong itu seperti sesuatu asap.

Al Arifbillah itu dapat mengenal karangan-karangan kitab-kitab ilmu, mana kitab itu ditulis mengikut hawa nafsu atau kerana ta’asub atau lain-lain dari hawa nafsu dan ta’asub.


Al Arifbillah itu dapat memilih mana-mana kitab yang sayugia dibaca dan diamalkan oleh ahli ilmu.

Adalah guru Al Arifbillah Habib Ahmad bin Hussin Al ‘Athas itu bernama Ghausu Zamaanih Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al ‘Athas telah memohon pandangan dan pilihan dalam sesuatu perkara kepada Nabi SAW maka Nabi SAW bersabda kepadanya: “ Akan datang kebenaran atau datang isyarat di atas tangan seorang anak-anak kamu.”:

Al Arifbillah Ahmad bin Hussin Al ‘Athas berkata adalah roh-roh datang kepada saya pada permulaan hidup saya sebagai suatu utusan sepuak lepas sepuak dan dia bercerita bahawa setengah orang mati lalu kepadanya lepas roh-roh berpisah dari jasad orang-orang mati itu atau lalu malaikat kepadanya dengan mmbawa roh-roh itu. Saya Tanya (Habib Mufti), ke mana roh-roh yang tuan guru lihat tadi? Jawabnya , dia bersiyarat dengan tangannya bahawa roh-roh itu pergi ke pihak kiblat.

Al Arifbillah itu menceritakan kepada (Al Habib Mufti) bahawa Al Arifbillah berhimpun dengan roh-roh “barzzakhiyyah” yang belum masuk ke dalam jasad manusia di dalam suatu perkara berlaku.

Adalah Al Arifbillah itu bangun tidur pada 1/3 yang terakhir dari waktu malam, ia mengambil air sembahyang, dan ia sembahyang dan panjang sembahyangnya itu. Kemudian ia membaca zikir-zikir yang panjang dan mengulang-ulang “Asmaul Husna”, ia bertasbih, ia bertahmid, ia bertakbir pada tiap-tiap “isim” itu. Kemudian ia baca zikir-zikir yang lain kemudian ia baca Quran dengan bacaan sederhana tiada cepat dan tiada lambat dan dia dapat membaca lima juzuk Al Quran sebelum terbit fajar.

Disebutkan bahawa Al Arifbillah dan Al Afiful Munawwar Ahmad bin Abdullah Balkhair sembahyang witir berjemaah dengan membaca 10 juzuk Al Quran.

Adalah wirid Al Arifbillah dalam sehari 25,000 “Lailahaillallah” dan membaca separuh Quran. Adapun usaha Al Arifbillah pada membaca kitab-kitab ilmu dari kitab-kita tafsir, hadis, tasawuf dan lain-lain, maka tiadalah kita ketahui (kata Al habib ‘Alawi) seseorang pun seperti Al Arifbillah itu.

Berkata Al ‘Alamah Muhammad Bifadhlu, saya berhubung dengan Al Arifbillah pada tahun 1316 Hijrah, maka banyak bilangan kitab yang ia baca di hadapan Al Arifbillah dan lain-lain penuntut membaca kitab di hadapannya menunjukkan kitab-kitab yang dibaca dihadapannya itu dari semenjak Al arifbillah balik dari Mekah sehingga tahun itu tiada kurang dari 26 tahun, adalah sangat banyak tiada dapat dikira, kerana tuan guru Al Arifbillah itu tiada sabar dari ilmu dan dari ibadah dan dari zikir, semuanya itu makanan bagi dirinya dan rohnya, dan saya tiada lihat akan seseorang pun tahan mendengar kitab-kitab ilmu seperti tuan guru itu.

Adalah Al Arifbillah itu apabila ia melayan “dhif-dhif” dan tetamu atau utusan-utusan maka ia tiada tahan dari meninggalkan membaca kitab, maka ia letakkan sebuah kitab di atas ribanya dan ia balik-balikan halaman kitab itu, sambil ia melayani “dhif-dhif” itu kerana ia gemarkan ilmu dan kitab-kitab ilmu.
Dipetik dari Uqudul Almaasi.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Na’im dan Ibnu Basykuwal daripada Imam Sufyan As Tsauri telah berkata, di antara ketika saya mengerjakan haji, tiba-tiba masuk seorang pemuda, dia tiada mengangkat sebelah kaki dan tiada meletakkan sebelah kaki, melainkan ia berselawat atas Nabi SAW dan keluarga baginda.

Maka saya katakan kepadanya: “Adakah dengan ilmu kamu kata begitu?” Pemuda itu menjawab: “Ya”. Kemudian pemuda itu berkata: “Siapa tuan?”
Saya menjawab: “ Saya Sufyan As Tsauri.” Ia bertanya: “Dari Iraq ?” Saya jawab: “Ya.”
Pemuda itu bertanya: “ bagaimanakah tuan kenalkan akan Allah?” Saya jawab: “Allah memasukkan malam ke dalam siang dan Allah memasukan siang ke dalam malam dan Allah menggambarkan anak-anak dalam rahim.” Kata pemuda itu: “ Wahau Sufyan, tuan belum kenalkan Allah dengan sebenar-benar kenal.”
Saya berkata: “ Bagaimana kamu kenalkan Allah?” Jawab pemuda itu: “ Bifaskhil hammi, wa naqdhil ‘azmi. (ertinya: dengan membuang bimbang dan membatalkan azam.). Dan saya bimbang maka saya buang bimbang itu, dan saya berazam maka dibatalkan azam saya itu, dengan itu saya kenal bahawa bagi saya ada Tuhan yang Esa yang mentadbirkan hal ehwal saya.”

Saya berkata: “Apa itu selawat yang kamu selawat kepada Nabi SAW?” jawab pemuda itu: “Ceritanya begini: Adalah saya pergi kerja dan bersama-sama saya ibu saya, dan ibu saya minta saya bawa dia masuk ke dalam Kaabah. Maka saya bawa ibu saya ke dalam Kaabah, maka ibu saya terjatuh dan bengkak perutnya dan hitam legam mukanya. Maka saya duduk disisinya dengan sedih hati saya, dan saya angkat 2 tangan ke langit dan saya berkata: Ya Rabbi Ya Tuhanku, beginikah Tuhan hamba buat kepada sesiapa yang masuk ke dalam rumah Tuhan hamba (Kaabah), maka tiba-tiba awan naik dari sebelah Tihamah, dan tiba-tiba ada di dalamnya seorang lelaki memakai pakaian putih, dan ia masuk ke dalam Kaabah. Dan ia lalukan tangannya di atas perut ibu saya, maka muka ibu saya menjadi putih dan kesakitannya reda. Kemudian ia berjalan hendak keluar dari Kaabah itu maka saya tarik bajunya dan saya berkata kepadanya: “Siapa tuan yang menolong menyelamatkan saya dari kesedihan saya?” Jawabnya, “ Saya Nabi kamu, Nabi Muhammad yang kamu memberi selawat ke atasnya.”

Maka kata saya: Ya Rasulullah “Fa Ausini” (ertinya mohon beri pesan pada saya). Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Janganlah angkat sebelah kaki dan jangan letakkan sebelah kaki melainkan kamu berselawat di atas Sayidina Muhammad dan di atas keluarga Sayidina Muhammad.”

Kata saya: “ Adalah orang muda ini dari kalangan wali-wali yang sampai kepada Allah.”

Saya kata ini kisah yang diceritakan Imam Sufyan As Tsauri yang terkenal dan dinukilkan oleh Imam Abu Na’im, pengarang kitab Haliyaatul Auliya’ dan Ibnu basykul dan telah dinukilkan oleh “Muhadissud Dunya” Sayyid As Syeikh Abdullah As Siddiq Al Ghamaari daripada ulama Al Azhar dan ulama Al Maghrib dalam kitabnya Fadhailun Nabiyyi fil Quranil Illahiyatu Fissolah ‘Ala Khairil Bariyyah dicetak oleh maktabah Al Kahirah Syari’ As Sonadiqqiyah, Medan, Al Azhar, Mesir.

Sedikit masa yang lalu saya telah mendengar seorang penceramah di suatu radio dengan jahil dan lalai dia mengatakan tiada mungkin dan tiada boleh seseorang menerima wirid dan amalan daripada Rasulullah SAW di dalam kaabah zaman sekarang atau sebelum sekarang, adalah Al ‘Alamah Ibnu Taimiyah menegur ahli taswuf bagaimana tersebut dalam kitab Al Fatawal Hadissiyah atau pengikut-pengikut Al hafiz bin Rejab dan Az Zahbi atau sefaham mereka seperti Syeikh Abu Bakar Al Jazairi da Syeikh Halali yang ada di Madinah Almunawarrah itu kedua-duanya tiada senang hati dengan ahli bait Rasulullah SAW dan dengan ahli tasawuf.

Maka nyata dari kata-kata ulama yang di atas ini, bahawa berjumpa dengan Nabi SAW waktu tidur atau waktu jaga, dan Nabi SAW mengajar akan sesuatu ilmu, suatu doa, suatu selawat dan suatu zikir, adalah HARUS DAN BOLEH, bagaimana telah berlaku pada ulama-ulama, ahli ilmu Islam, wali-wali Allah dan orang-orang solehin, kita berkata perkara seperti ini termasuk di bawah erti kata
“ fadhoilul ‘amal”.

Adapun perkara halal dan haram telah tertutup dengan terhenti wahyu kepada Nabi kita dan dengan wafat Nabi kita SAW sebagaimana kita telah sebutkan di awal-awal rencana ini.

Sila baca kitab-kitab berkenaan wali-wali Allah seperti Syawahidul Haq karangan Syeikh Yusuf Anbahani dan kitab Lathoifulminan karangan Al Arifbillah Tajuddin bin ‘Athaillah As Sakandari yang mati tahun 709 Hijrah dan Jami’u karamatil Auliya’ karangan Syeikh Anbahani dan Hilyatul Auliya’ oleh Al Hafiz Abu Na’im dan karangan Al ‘Alamah Dr. Abdul Halim Mahmud, Mesir dan lain-lain.

Pihin Datuk Ser Maharaja Datuk Seri Utama
Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz
Mufti Kerajaan Brunei Darussalam

Pejabat Mufti,
Kementerian hal Ehwal Agama,
Negara Brunei Darussalam.
14 Jamadil Awal 1408H
4 Januari 1988.

Orang berilmu sentiasa istiqamah, ikhlas dan berani, ketegasan mereka didorong oleh kesungguhan untuk mempertahankan prinsip kebenaran

Orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Tuhan dan masyarakat. Al-Quran menggelarkan golongan ini dengan pelbagai gelaran mulia dan terhormat yang menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di sisi Allah SWT dan makhluk-Nya.

Mereka digelar sebagai "al-Raasikhun fil Ilm" (Al Imran : 7), "Ulul al-Ilmi" (Al Imran : 18), "Ulul al-Bab" (Al Imran : 190), "al-Basir" dan "as-Sami’ " (Hud : 24), "al-A’limun" (al-A’nkabut : 43), "al-Ulama" (Fatir : 28), "al-Ahya’ " (Fatir : 35) dan berbagai nama baik dan gelaran mulia lain.

Gelaran ini digandingkan Allah SWT dengan ayat-ayat yang membicarakan dasar-dasar akidah tauhid dengan antaranya menghubungkan kitab suci al-Quran dan fenomena alam sebagai "wasilah" atau "ayat" bagi mengenal dan mengakui-Nya.

Ia sekaligus menunjukkan bahawa daya usaha untuk memperoleh ilmu melalui pelbagai saluran dan pancaindera yang dikurniakan Allah SWT membimbing seseorang ke arah mengenal dan mengakui ketauhidan Rabbul Jalil.

Ini memberi satu isyarat dan petunjuk yang penting bahawa ilmu mempunyai hubungkait yang amat erat dengan dasar akidah tauhid. Orang yang memiliki ilmu, tidak terhad kepada ilmu pengajian Islam semata-mata - sepatutnya mengenal dan mengakui keesaan Allah SWT dan keagungan-Nya.

Hasilnya, orang yang berilmu akan gerun, tunduk, kerdil dan hina berhadapan dengan kekuasaan dan keagungan Allah SWT . Ibn Mas’ud pernah berkata "bukanlah dinamakan berilmu dengan hanya banyaknya (meriwayatkan) hadis, tetapi berilmu yang sebenar ialah (melahirkan) banyaknya perasaan gerun (kepada keagungan Allah).

Akidah murni mereka begitu jelas terserlah melalui bidang penyelidikan dan pengamalan kepakaran masing-masing. Mereka tunduk dan beriman kepada kekuasaan Allah SWT. Ini sekali lagi membuktikan bahawa perkara akidah dan roh fitrah Islam merentasi semua aspek kehidupan manusia khususnya para ilmuan dan cendekiawan yang terlibat secara langsung dalam kajian dan penyelidikan alam "kauniyyah" dan manusia.

Dalam surah ali Imran ayat ke-18, Allah SWT berfirman yang bermaksud:

"Allah menerangkan (kepada sekalian makhlukNya dengan dalil-dalil dan bukti), bahawasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang sentiasa mentadbirkan (seluruh alam) dengan keadilan dan malaikat-malaikat serta orang-orang yang berilmu (mengakui dan menegaskan juga yang demikian); tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana".

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibn Kathir membuat suatu rumusan yang menarik bahawa apabila Allah SWT menggandingkan "diri-Nya" dengan para malaikat dan orang yang berilmu tentang penyaksian "keesaan Allah SWT dan kemutlakan-Nya sebagai Tuhan yang layak disembah", ia adalah suatu penghormatan agung secara khusus daripada-Nya kepada orang-orang yang berilmu yang sentiasa bergerak di atas paksi kebenaran dan menjunjung tinggi prinsip ini serta berpegang teguh dengannya dalam semua keadaan dan suasana.

Rakaman penghormatan ini kekal sebagaimana kekalnya kitab wahyu ini sebagai peringatan kepada golongan berilmu bahawa mereka amat istimewa di sisi Allah SWT . Mereka diangkat sebaris dengan para malaikat yang menjadi saksi Keesaan Allah SWT. Mereka memikul amanah Allah SWT kerana mereka adalah pewaris para nabi.

Oleh yang demikian mereka perlu memiliki dan beramal dengan sifat-sifat yang jelas melalui perkataan yang dituturkan, tindakan yang diambil, perbuatan yang dilakukan, sikap yang ditunjukkan, dan seruan yang dibuat. Sifat dan sikap yang tidak selari dengan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka boleh mencacatkan kewibawaan dan penghormatan masyarakat umum.

Sifat ikhlas, berani, dan tegas serta sentiasa istiqamah harus sebati dengan orang yang berilmu. Orang yang berilmu tidak sangat mengharapkan ganjaran, sanjungan, dan pujian manusia. Keikhlasan mereka adalah hasil daripada ramuan kecintaan dan keyakinan kepada prinsip kebenaran yang menjadi tonggak pegangan mereka.

Orang yang berilmu amat menjunjung tinggi prinsip kebenaran. Mereka tidak menafikan kebenaran dari pihak lain dan tidak pula membolot kebenaran untuknya secara mutlak. Kebenaran yang menjadi pegangan mereka bukan diukur daripada keluarnya perkataan atau perakuan hanya daripada mulut atau kelompok mereka sahaja. Bahkan kebenaran itu boleh juga datang daripada orang lain. Berlapang dada dan merendah diri adalah akhlak murni orang yang berilmu.

Kebenaran yang sejati adalah apabila datangnya daripada nas al-Quran al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyyah. Keikhlasan Imam Malik mendorongnya menegah Khalifah al-Mahdi dan al-Rashid daripada mengangkat kitab karangannya al-Muwatta’ sebagai undang-undang dasar kerajaan. Imam al-Syafei pernah menyatakan bahawa :"Sesiapa yang mendapati hadis Rasulullah s.a.w. (yang sahih) yang bercanggah dengan pendapatku, maka menjadi kewajipannya untuk mengikuti nas hadis sahih tersebut dan meninggalkan pendapatku".

Keberanian orang yang berilmu adalah hasil kegerunan dan keyakinan teguh kepada kekuatan dan kekuasaan Tuhan Rabbul Jalil. Firman Allah SWT yang bermaksud :

"Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun."- Surah Fatir : ayat 28

Mereka percaya penguasa kuat, tetapi mereka lebih yakin bahawa Allah Maha Berkuasa atas sekelian makhluk-Nya. Kehinaan di sisi manusia kerana mempertahankan prinsip kebenaran dipandang lebih baik dan mulia daripada kehinaan di sisi Allah SWT kerana mengenepi kebenaran dek kerana untuk menarik perhatian atau mendampingi manusia. Orang yang berilmu boleh hilang kehormatan diri di sisi masyarakat umum jika tidak bersikap sedemikian.

Ketegasan orang yang berilmu pula adalah didorong oleh kesungguhan untuk mempertahankan prinsip kebenaran yang diamanahkan oleh Allah SWT. Mereka amat yakin bahawa menyatakan kebenaran dan perkara hak adalah amanah Allah SWT sekalipun mereka mengetahui risikonya amat besar.

Sebaliknya menyembunyikan kebenaran dan hak adalah suatu "jenayah" berat di sisi Allah SWT yang boleh memusnahkan kewibawaan dan kemuliaan dirinya. Orang yang berilmu amat yakin dengan pesanan Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Sesiapa yang disoal tentang sesuatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya ia akan dikekang mulutnya pada hari kiamat dengan kekangan dari api neraka"

(Hadis Riwayat Tirmizi)

Ahad, 10 Ogos 2008

BULAN SYA'BAN : Persediaan Di Ambang Ramadhan

Setiap bulan dalam sepanjang tahun mengikut kiraan taqwim Hijriyyah mempunyai kelebihan tertentu dan keistimewaan beribadat di dalamnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan hari atau bulan itu ada yang baik dan ada yang lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kelebihan bulan Muharram, Rejab, Sya‘ban, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sebagai bulan-bulan yang istimewa. Begitu juga dengan hari-hari tertentu seperti Juma‘at, Khamis dan Isnin mempunyai pelbagai fadhilat.


Bulan Sya‘ban Dan Galakkan Beribadat Di Dalamnya



Sekarang kita berada di bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban juga mempunyai keistimewaan tersendiri di dalam Islam. Keadaan ini samalah juga dengan bulan-bulan yang lain yang mempunyai fadhilat tersendiri, sehingga menyebabkan kehadirannya sentiasa ditunggu-tunggu oleh mereka yang ahli ibadat sebagai masa mengaut pahala.



Bulan Sya‘ban adalah antara bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih banyak berpuasa di bulan ini. Pernah diriwayatkan bahawa Baginda tidak pernah berpuasa sunat dalam sebulan, lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya‘ban.



Dalam makna yang lain Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban dibandingkan bulan-bulan yang lain. Oleh kerana itu amatlah dituntut bagi umat Islam mencontohi apa yang dilakukan oleh Baginda itu kerana selain memperbanyak amal kebajikan di bulan ini, ia juga merupakan suatu latihan rohani ke arah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.


Amalan-Amalan Sunat Pada Bulan Sya‘ban



Keistimewaan bulan ini bahawa amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka sewajarnyalah sepanjang bulan ini diisikan dengan amal ibadah dan kebajikan. Maka antara amalan yang digalakkan pada bulan Sya‘ban adalah:



1. Memperbanyak puasa sunat.



Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih gemar berpuasa sunat dalam bulan Sya‘ban berbanding dengan bulan-bulan yang lain.



2. Bertaubat dan beristiqhfar



Taubat ialah pembersihan rohani kerana taubat itu menjadi tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu yang sememangnya tidak ma‘shum ini melakukan taubat pada setiap masa dan ketika. Tegasnya hukum taubat itu adalah wajib dari segi syara‘. Walau bagaimanapun sebenar-benar taubat itu ialah yang dikatakan taubat nasuha.



Taubat nasuha tidak akan tercapai tanpa mendatangkan terlebih dahulu syarat-syarat yang ditentukan. Umpamanya jika dosa itu antara hamba dengan Tuhan:



1. Hendaklah dia meninggalkan dosa atau maksiat itu.

2. Hendaklah dia benar-benar menyesali dan merasa dukacita atas perbuatan maksiatnya itu.

3. Hendaklah dia berjanji dan berazam untuk tidak akan kembali mengulangi melakukannya.



Manakala jika dosa itu bersangkut paut dengan hak orang lain, maka selain syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di atas, ditambah lagi satu syarat iaitu hendaklah membersihkan dirinya daripada hak orang itu atau orang yang melakukan dosa itu memohon maaf kepada orang berkenaan.



Selain daripada itu, peranan taubat itu sendiri tidak terhenti setakat membersihkan diri daripada segala dosa dan maksiat. Lebih daripada itu ia juga merupakan suatu cara untuk kita sentiasa berlindung diri kepada Allah subhanahu wa Ta‘ala memohon keberkatan ketika kita memulakan dan membuat sesuatu pekerjaan yang berfaedah dan mengharapkan kurnia, taufiq serta diselamatkan daripada ditimpa musibah, kesusahan, kesulitan dan sebagainya.



Adapun istighfar itu pula ialah pernyataan memohon ampun kepada Allah daripada semua dosa. Lafaz istighfar itu di antaranya ialahأستغفر الله العظيم bererti: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”.



3. Memperbanyak zikir dan berdoa



Zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingati Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkanNya dari sifat-sifat yang tidak layak untukNya.



Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan agar manusia mengambil berat tentang zikir. Banyak faedah yang diperolehi hasil daripada berzikir. Antaranya ialah:



i. Menenangkan hati:



Ini bersesuaian dengan janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahawa orang-orang yang beriman itu tenang hati mereka dengan zikrullah. Ini kerana berzikir (mengingati Allah) itu mententeramkan hati manusia.



ii. Kawalan Diri dan Perlindungan Malaikat:



Seseorang itu merasa terkawal kerana Allah sentiasa menyertainya di mana sahaja dia berada. Akibatnya paling minima dia takut hendak berbuat maksiat dan bersedia pula untuk melakukan ketaatan.



Bahkan dia juga mendapat kawalan sepenuhnya daripada malaikat. Bagi orang yang sekadar duduk di majlis zikir sekalipun tidak bersama berzikir akan mendapat juga rahmat Allah dan kawalan malaikat.



iii. Terpelihara Daripada Godaan dan Pujukan Syaitan.



iv. Meningkatkan Rasa Kecintaan Kepada Allah:



Untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah, mestilah memahami dan menghayati bacaan tasbih, doa dan istighfar yang diucapkan itu.



Antara keistemewaan amalan zikir itu pula ialah:



i. Zikir boleh dilaksanakan bila-bila masa walaupun sedang melakukan pekerjaan tanpa terikat dengan waktu. Ia juga boleh dilaksanakan dalam keadaan duduk, tidur, berdiri dan baring.



ii. Boleh dilaksanakan walaupun dalam keadaan berhadas sama ada hadas kecil mahu pun hadas besar. Walau bagaimanapun makruh berzikir secara lisan ketika berada di dalam tandas.

Begitu juga dengan perkara doa. Doa boleh dilakukan tanpa mengira tempat dan masa. Doa ialah memohon sesuatu hajat atau perlindungan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan cara merendahkan diri dan tawadhu‘ kepadaNya.

Selain daripada itu banyak lagi amal kebajikan yang boleh dilaksanakan di bulan Sya‘ban ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Ramadhan seperti memperbanyakkan selawat atas junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersembahyang sunat terutama di waktu malam, banyak bersedekah dan sebagainya. Maka rebutlah peluang dan kelebihan yang ada di bulan Sya‘ban ini untuk mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, mengapa Baginda melebihkan berpuasa sunat di bulan Sya‘ban berbanding bulan-bulan yang lain? Baginda bersabda:

“Bulan itu (Sya‘ban) yang berada di antara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”.

(Hadis riwayat an-Nasaie)


Kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban



Adapun kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

“Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”

(Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)



Di Malam Nisfu Sya‘ban juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi‘e dalam kitabnya al-Umm: “Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nisfu Sya‘ban.”


Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban



Nisfu Sya‘ban ialah hari ke lima belas daripada bulan Sya‘ban. Malam Nisfu Sya‘ban merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu di atas.



Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman para sahabat. Akan tetapi ia berlaku pada zaman tabi‘in dari penduduk Syam. Menyebut al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, bahawa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadat dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang ramai pada membesarkan malam tersebut.



Para tabi‘in tersebut menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara:



1. Sebahagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiamullail) untuk bersembahyang sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik.



2. Sebahagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadat seperti sembahyang sunat dan berdoa dengan cara bersendirian.



Ada pun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur’an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau rumah-rumah persendirian sama ada secara berjemaah atau perseorangan adalah tidak jauh berbeza dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.


Amalan-Amalan Bid‘ah Dalam Bulan Sya‘ban



Dalam keghairahan kita menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban itu dengan berbagai cara ibadat, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan perkara-perkara bid‘ah.



Di antara perkara bid‘ah itu ialah bersembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang ini sebenarnya tiada tsabit dalam ajaran Islam. Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban kerana suatu sembahyang itu disyariatkan cukup dengan sandarannya sama ada dari nash Al-Qur’an atau pun hadis.



Jika seseorang itu masih juga ingin untuk melakukan sembahyang, maka sayugialah dia mengerjakan sembahyang-sembahyang sunat yang lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya’), sembahyang tahajjud, akhirnya sembahyang witir atau sembahyang sunat muthlaq bukan sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang sunat muthlaq ini boleh dikerjakan pada bila-bila masa sahaja sama ada pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam yang lain.


Adalah mendukacitakan pada malam yang penuh berkat dan keampunan itu, wujud perkara-perkara yang tidak selari dengan syara‘, iaitu adanya orang yang membuat hiburan atau mengadakan konsert pada Malam Nisfu Sya‘ban. Apatah lagi jika hiburan atau permainan yang diadakan itu melibatkan ramai orang Islam sehingga terlepas untuk merebut peluang beribadat dan berdoa pada malam tersebut. Perbuatan seumpama ini setentunya menyumbang kepada maksiat.


Sesunguhnya bulan Sya‘ban itu adalah bulan di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa sunat dibandingkan pada bulan-bulan yang lain, iaitu sebagai persiapan dan persediaan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Amalan Baginda itu sewajarnya dicontohi oleh sekalian umat Islam disamping bulan Sya‘ban itu sendiri mempunyai kelebihan yang tersendiri seperti Malam Nisfu Sya‘ban.